Mutiara Ramadan 2018

Menabur Kebajikan, Bermanfaat Bagi Orang Lain

TINGKAT kualitas iman dan bobot kebajikan seorang dapat dilihat dari seberapa besar kemampuannya memerankan diri dalam lingkungannya

Menabur Kebajikan, Bermanfaat Bagi Orang Lain
Viaberita.com
Ilustrasi. 
Dr Mutohharun Jinan
Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta.
Dr Mutohharun Jinan Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta. (SRIPOKU.COM)

SRIPOKU.COM - TINGKAT kualitas iman dan bobot kebajikan seorang dapat dilihat dari seberapa besar kemampuannya memerankan diri dalam lingkungannya sehingga banyak manfaat bagi orang lain. Manfaat tidak semata secara finansial, lebih dari itu dapat berupa manfaat sosial dan spiritual.

Berita Lainnya:
Kepemimpinan Berkarakter Memiliki Kualifikasi Profesional, Objektif dan Amanah

Dalam satu hadis dikatakan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk memberikan manfaat/kebajikan dalam tiga bentuk.

Pertama, manfaat moral. Seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain melalui moralitas luhur yang ditampilkannya dalam kehidupan sehari-hari. Moralitas luhur dapat memberi inspirasi dan meneladani orang lain yang melihatnya untuk melakukan hal serupa. Tanpa diperintahkan dan dengan sendirinya kebajikan yang dipancarkan menyebar kepada orang lain.

Kedua, melalui tindakan atau jasa, yang termasuk di dalamnya tenaga, keahlian, pikiran, dan lisan. Siapa pun yang diberikarunia Allah berupa kemampuan fisik dan nonfisik disertai keahlian tertentu maka wajib baginya mendermakan kepada orang lain dengan membantu atau memberi pertolongan.

Ilustrasi
Ilustrasi (SHUTTERSTOCK)

Sejatinya setiap orang memiliki kemampuan untuk derma berupa jasa, baik yang berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah, baik pejabat atau rakyat biasa, baik yang berbadan kuat maupun lemah. Masing-masing adalah sendiri-sendiri untuk beraktualisasi sehingga bermanfaat untuk orang-orang dan lingkungannya.

Ketiga, menabur manfaat finansial melalui sedekah harta yang dititipkan oleh Allah. Pada bulan Ramadan seperti sekarang ini sedekah menjadi aktivitas primadona karena memang tidak sedikit teks yang mendorong supaya kaum muslim memperbanyak sedekah berpahala berlipat ganda. Sedekah harta menemukan relevansinya dalam masyarakat yang tingkat kemiskinannya tinggi.

sedekah
sedekah ()

Tradisi derma terlembagakan dalam berbagai bentuk kewajiban, seperti infak, zakat, hibah, qurban, dan wakaf yang semua menjadi pintu bagi kaum muslim memasuki arena peran-peran sosialnya, terutama bagimereka yang kurang mampu, miskin, dan mustad'afin.

Allah mengingatkan, "Kamu tidak akan sampai pada kebajikan (yang sempurna) sebelum kami menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai" (QS. Ali Imron [3]: 92). Bersedekah dilakukan melalui cara santun, menyenangkan, dan tidak disertai perasaan yang dapat memalukan, mengecewakan, apalagi menyakiti orang yang diberi. Artinya sikap menghargai dan menghormati martabat orang lebih utama dari pada pemberian harta benda (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

Barang yang baik
Sedangkan barang yang disedekahkan dipilih barang yang baik, barang yang memang masih layak digunakan, bukan barang yang dirinya sendiri tidak menyukainya. "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya" (QS. Al-Baqarah [2]: 267).

Agama selalu mengingatkan bahwa setiap individu harus saling bermanfaat dan membantu sehingga tercipta kehidupan yang harmonis. Dengan kehidupan yang demikian setiap individu dalam masyarakat akan saling memperoleh manfaat dari upaya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan bersama. Ibarat satu tubuh bila ada satu bagian yang terluka maka bagian lain juga turut merasakan.

Rasulullah SAW mengecam keras orang yang tidak peka terhadap lingkungan dan masyarakatnya. "Bukanlah termasuk golongan orang muslim, mereka yang tidak peka pada kesulitan suadaranya" (HR. Malik).

Ibadah Ramadan harus bermuara pada dua manfaat. Di satu sisi, ibadah yang dilakukan akan dapat meningkatkan kualitas spiritual individu sehingga menjadi pribadi yang bercitra Ilahi. Di sisi lain, pengaruh ibadah juga harus berdaya guna bagi lingkungan sosial. (*)

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved