Mutiara Ramadan 2018

Kepemimpinan Berkarakter Memiliki Kualifikasi Profesional, Objektif dan Amanah

DALAM kitab suci disebutkan, pada bulan Ramadan dipilih malam yang mulia yang lazim disebut dengan lailatul qadar. Dijelaskan, lailatul qadar

Kepemimpinan Berkarakter Memiliki Kualifikasi Profesional, Objektif dan Amanah
malikinnas
Ilustrasi. 
Dr Mutohharun Jinan
Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta.
Dr Mutohharun Jinan Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta. (SRIPOKU.COM)

SRIPOKU.COM - DALAM kitab suci disebutkan, pada bulan Ramadan dipilih malam yang mulia yang lazim disebut dengan lailatul qadar. Dijelaskan, lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang didalamnya diturunkan para malaikat dan ruh yang menebar kesejahteraan bagi manusia hingga terbit fajar.

Berita Lainnya:
SIT Auladi-Ortu Cetak Kepemimpinan dari Rumah, Ajarkan Trik Andil Ciptakan Karakter Pemimpin

Pemahaman nilai seribu bulan tentunya berkait dengan suasana kondusif bulan puasa yang dapat menumbuhkan kepekaan dan kemudian membuat ruhani sangat sugestif atau mudah menerima rangsangan dengan pengalaman ketuhanan. Pengalaman ruhaniah semacam itulah yang dimaksud nilainya lebih baik dari seribu bulan atau delapan puluh tahun, sama dengan harapan hidup manusia pada umumnya.

Dalam suasana bulan Ramadan yang sedemikian rupa, ibadah puasa akan memiliki dampak positif sekali bagi pengembangan dan peningkatan ruhaniah seseorang. Orang yang berpuasa pada hakikatnya sedang menjalankan latihan ruhani sehingga dirinya merasa dekat dengan Allah dan sebagai implikasinya dia akan merasa terawasi, diperhatikan, dan dipedulikan oleh Allah.

Dalam kitab suci terkait dengan puasa adalah tercapainya derajat ketakwaan. Hakikat ketakwaan itu akan dapat melahirkan kesadaran yang kuat pada diri manusia bahwa Tuhan hadir atau kesadaran bertuhan di mana saja kapan saja.

Kesadaran tersebut kemudian menjadikan orang dapat menahan diri atau mengendalikan diri dari kejatuhan moral dan spiritual. Dengan demikian puasa akan mengantarkan pelakunya memiliki kepribadian tangguh untuk menjalankan peran-peran publik secara jujur dan adil.

Kepribadian yang kuat itu menjadi penuntun setiap tindakan dalam melaksanakan tugas-tugas seseorang. Dari sini bermula lahirnya pemimpin-pemimpin berkarakter, yang memerankan tugas dan fungsinya di bawah sinar kesadaran ketuhanan.

Pemimpin berkarakter memiliki kualifikasi profesional, objektif, dan amanah. Profesional dalam arti ahli dalam bidang tertentu yang akan menjadi tanggung jawabnya. Mengedepankan sikap objektif, dalam arti mampu menyampaikan programnya kepada yang seharusnya mendapatkan hak-haknya. Amanah, dapat mempertanggung jawabkan program dan kegiatan yang dilakukan.

Dalam bahasa Alquran disebutkan, "Sesunguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat terpercaya" (QS Al-Qashas [28]:26).Kuat pada ayat ini adalah kuat bekerja dalam memimpin.

Sedang amanah (dapat dipercaya) adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, karena takut kepada Allah. Maka, sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pejabat. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya.

Pemimpin berkarakter memang harus berkemampuan profesional, menguasai keterampilan berkomunikasi, akrab dengan perkembangan teknologi informasi, dan kemampuan manajerial lain sesuai dengan kebutuhan zaman. Kemampuan profesional menjadi syarat bagi pemimpin yang akan mengatur, melayani, dan mengarahkan masyarakat menuju kehidupan lebih adil dan bermartabat. Untuk itu pertanggung jawabannya bersifat publik, eksternal, terukur, dan akuntabel.

Sementara pertanggujawaban kepemimpinan di hadapan Tuhan akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan kesadaran ruhaniahnya. Kesadaran akan pentingnya menjaga amanah, berlaku jujur, dan objektif dalam melaksanakan tugasnya, demi tercapainya keadaban publik.

Bagi kaum beriman ada kesadaran bahwa ibadahnya, darma baktinya, hidup dan matinya, adalah untuk Tuhan guna memperoleh ridha-Nya. Oleh karena itu setiap pekerjaan harus dilakukan menggunakan kesadaran penuh bahwa dia akan mempertanggugjawabkan kelak dengan pengadilan Tuhan. Sekali lagi kesadaran secam ini dapat dilatihkan melalui ibadah puasa yang dilaksanakan dengan sebenarnya. (*)

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved