Mutiara Ramadan 2018

Mudik dan Tradisi Voluntarisme Menjadi Gejala Sosial yang Kuat di Masyarakat

TRADISI voluntarisme dan filantropi menjadi gejala sosial yang kuat di masyarakat Indonesia. Keterpanggilan jiwa secara sukarela

Mudik dan Tradisi Voluntarisme Menjadi Gejala Sosial yang Kuat di Masyarakat
http://banjarmasin.tribunnews.com/
Ilustrasi - Mudik Lebaran. 

SRIPOKU.COM - TRADISI voluntarisme dan filantropi menjadi gejala sosial yang kuat di masyarakat Indonesia. Keterpanggilan jiwa secara sukarela untuk turun langsung membantu segenap masyarakat (dan pemerintah) tampak antusias. Gejala voluntarisme menjadi semakin nyata, selain pada saat terjadi musibah, juga semarak ketika perayaan agama dengan mobilitas penduduk yang tinggi seperti sekarang ini.

Berita Lainnya:  Tim Ekspedisi Jelajah Sripo-Tribun Dilepas oleh Pejabat Toyota Auto 2000 Plaju

Perhatikan, pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga setelah Lebaran di sepanjang jalan utama arus mudik tersedia tenda-tenda peristirahatan (rest area) sementara. Para relawan mendirikan posko rest area bertujuan untuk menfasilitasi pemudik yang hendak melepas lelah dan istirahat sejenak.

Para relawan menyiapkan beragam fasilitas guna merelaksasi kelelahan para musafir. Para relawan rest area menyediakan berbagai fasilitas mulai dari minuman dan makanan ringan, obat-obatan, pijat listrik, hingga tempat tidur.

Fasilitas itu sediakan dan bisa dinikmati pemudik. Relawan terjadwal secara bergilir menyambut dan melayani musafir yang memerlukan bantuan untuk menjaga stamina dan kesehatan. Aksi voluntarisme dalam bentuk posko itu disediakan oleh berbagai kelompok masyarakat.

Mulai dari perusahaan otomotif, instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, hingga remaja masjid. Apapun motivasi dan tujuan mereka, semarak rest area untuk mudik aman ini sudah selayaknya mendapat apresiasi, terlebih di tengah kekhawatiran akan melemahnya nilai-nilai solidaritas sosial dan aksi teror atas nama agama.

Rest area untuk mudik aman ini bagian dari perwujudan modal sosial (social capital), yaitu adanya kesediaan berbagi dan tradisi berderma untuk membantu antarsesama. Berderma tidak semata-mata dalam bentuk harta atau uang yang diberikan kepada orang lain.

Para pemudik yang memanfaatkan halaman supermarket di Kota Baturaja untuk rest area bayangan sambil berbelanja kebutuhan, Minggu (3/7/2016).
Ilustrasi - Para pemudik yang memanfaatkan halaman supermarket di Kota Baturaja untuk rest area bayangan sambil berbelanja kebutuhan, Minggu (3/7/2016). (SRIPOKU.COM/LENI JUWITA)

Berderma juga bisa dalam bentuk layanan atau bantuan jasa kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Hakikat berderma adalah bagaimana dalam hidup ini dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada sesama manusia.

Dalam kondisi tertentu, utamanya dalam masyarakat modern, manfaat yang dibutuhkan seseorang justru dalam bentuk sikap dan nilai-nilai sosial untuk terwujudnya kehidupan yang damai.

Perintah untuk berbagi dan saling membantu pada dasarnya merupakan pesan universal agama. Agama-agama mengajarkan agar setiap orang berlomba berbuat kebajikan untuk kemaslahatan hidup bersama. Bahkan satu indikator baik tidaknya seseorang itu dilihat dari banyak sedikitnya nilai kemanfaatan yang diberikan kepada orang lain.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved