Mutiara Ramadan 2018

Pilihan Beragama, Percaya Adanya Tuhan dan Terhadap Keabadian Hidup Setelah Mati

MENGAPA beragama? Jawaban yang muncul akan berbeda-beda, berkaitan dengan siapa yang ditanya. Bagi sebagian masyarakat Barat

Pilihan Beragama, Percaya Adanya Tuhan dan Terhadap Keabadian Hidup Setelah Mati
ISTIMEWA
Ilustrasi - Masjid Al Aqsa. 

SRIPOKU.COM - MENGAPA beragama? Jawaban yang muncul akan berbeda-beda, berkaitan dengan siapa yang ditanya. Bagi sebagian masyarakat Barat atau China yang tidak beragama, justru malah aneh, mengapa mesti beragama.

Berita Lainnya:
Peranan Agama dalam Kehidupan Manusia

Tetapi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, akan heran kalau orang tidak beragama. Kalau seseorang beragama, masih juga muncul pertanyaan selanjutnya, agama apa yang dianut? Mengapa tidak ganti-ganti agama agar lebih banyak pengetahuan dan pengalamannya?

Terdapat dua kredo utama dalam beragama. Yaitu percaya akan adanya Tuhan dan percaya terhadap keabadian hidup setelah mati. Dua kredo ini merupakan dimensi pokok dalam setiap agama.

Di antara keduanya muncul konsep dan kepercayaan terhadap pembawa atau pendiri agama yang diyakini menerima mukjizat ataupun wahyu dari Tuhan untuk meyakinkan umatnya. Wahyu ajaran Tuhan itu lalu dihimpun menjadi kitab suci, yang di dalamnya terdapat perintah dan panduan berbuat kebajikan, baik berupa ritual keagamaan maupun perilaku sosial horizontal.

Inti agama adalah kepercayaan pada Tuhan, namun mempunyai implikasi dalam berbagai kehidupan sehari-hari, sehingga muncul etika dan pranata sosial. Dari sekian agama yang ada, ajaran Islam yang paling detail memberikan panduan prilaku dan pranata sosial.

Bahkan sejak masuk dan keluar toilet saja ada formula doanya. Soal pembagian harta warisan, misalnya, Al-Quran juga memuat formula sangat detail. Mungkin ini sebagai antisipasi kalau sudah menyangkut harta, manusia maunya mendapatkan lebih, enggan dikurangi.

Namun begitu Al-Quran mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan sesama keluarga sehingga dimungkinkan terjadi hibah dan hadiah secara suka rela jika dipandang ada anggota keluarga yang lebih memerlukan. Artinya, pelaksanaan pembagian harta warisan itu luas dan luwes.

Islam bermakna berserah diri pada Allah secara sukarela dan damai. Sikap berserah diri pada Tuhan dan pada kebenaran ajaran yang diyakininya mengasumsikan adanya kebebasan atau kemerdekaan, bebas dari paksaan.

Tak ada paksaan dalam memeluk agama. Oleh karena itu seseorang dikatakan muslim jika dalam memilih dan melaksanakan ajaran yang diyakininya secara suka rela, bebas dari tekanan, ancaman dan paksaan. Bahwa pilihan beragama itu sangat dipengaruhi lingkungan, itu sudah pasti. Tetapi pada akhirnya keberagamaan seseorang mestilah hasil pilihan sadar dan merdeka.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved