Mutiara Ramadan 2018

Membincang Ikhlas dari Pribadi Bekerja Semangat Memberi dan Melayani

SERING kita jumpai pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena semua itu hasil kerja orangtuanya.

Membincang Ikhlas dari Pribadi Bekerja Semangat Memberi dan Melayani
sojo.net
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM - SERING kita jumpai pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena semua itu hasil kerja orangtuanya. Dia tidak memiliki ketrampilan dan kepandaian yang dibanggakan.

Berita Lainnya:
Memaknai dan Menghargai Hidup

Di hatinya merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara professional dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari masyarakat. Jadi, kerja, harga diri, dan kebahagiaan saling terkait serta saling mengisi.

Persoalan muncul ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami oleh banyak penduduk Indonesia.

Langkah pertama adalah mengembangkan ketrampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun baru. Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, seseorang harus mengubah kondisi internalnya dengan belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Di atas itu semua, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup mulia. Pandangan bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan. Hidup adalah anugerah yang mesti dijalani, disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas. Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain kecuali ada kalkulasi untung rugi.

Kecuali mereka yang benar-benar menghayati kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasa syukur pada Sang pemberi hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat dan mensyukuri hidup secara penuh keikhlasan. Mengapa ikhlas? Karena ikhlas adalah ruh kehidupan dan sumber kebahagiaan.

Ikhlas hanya bisa keluar dari pribadi yang bekerja dengan semangat memberi dan melayani, bukan mengejar upah dan tepuk tangan. Orang yang bekerja semata mengejar upah, durasi kesenangannya hanya sessat, yaitu ketika menerima uang.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved