Mutiara Ramadan 2018

Islam Indonesia Datang Lewat Perdagangan

PADA dasarnya sifat orang Indonesia itu toleran, ramah, senang berkawan sebagaimana sifat pedagang. Dan pada awalnya Islam yang berkembang

Islam Indonesia Datang Lewat Perdagangan
https://waskite.wordpress.com/
Ilustrasi - Perdagangan Islam. 
Prof Dr Komaruddin Hidayat
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah
Prof Dr Komaruddin Hidayat Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah (http://palembang.tribunnews.com/)

SRIPOKU.COM - PADA dasarnya sifat orang Indonesia itu toleran, ramah, senang berkawan sebagaimana sifat pedagang. Dan pada awalnya Islam yang berkembang juga lebih menekankan dimensi tassawuf yang menekankan keluhuran budi pekerti sehingga lebih mudah bergaul dan berkomunikasi dengan pemeluk Hindu-Budha kala itu. Baru belakangan saja muncul gerakan radikalisme-terorisme dan dakwah agama yang keras yang dengan mudah mengkafirkan dan menjelekkan orang lain, bahkan terhadap umat Islam sendiri. Andaikan dulu para pembawa Islam sikapnya seperti itu, pasti nusantara ini tidak menjadi kantong umat Islam seperti sekarang ini.

Berita Lainnya:
Allah Rindu kepada UmatNya

Sejarah telah mencatat bahwa Islam Indonesia yang datang dan berkembang tanpa melalui peperangan. Melainkan lewat perdagangan dan penyebaran secara damai. Perang muncul belakangan ketika penjajah Barat datang. Keberagaman seseorang dan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Indonesia sebagai negara kepulauan yang tanahnya amat subur tentu watak masyarakatnya berbeda dari penduduk Arabia yang dikelilingi padang pasir yang dalam sejarahnya senang berperang antarsuku memperebutkan sumber air dan padang rumput.

Masyarakat nusantara hidup terpencar ke dalam ribuan pulau yang subur, sehingga ikatan suku dan daerah begitu kuat, namun tidak perlu berebut sumber air atau padang rumput. Hubungan perdagangan antar pulau sudah lama terjalin. Kehadiran pedagang Arab dan China ke nusantara turut memajukan perdagangan dengan pusat di kota-kota pantai. Dulu kota pantai merupakan pusat perdagangan dan sekaligus juga pusat penyebaran Islam dan bahasa Melayu. Ikatan keislaman dan peran bahasa Melayu ini pada urutannya menjadi pengikat kohesi ke-Indonesiaan.

Dengan berkembangnya zaman, peran kota pantai merosot. Pusat perdagangan dan keislaman serta industri tumbuh pesat di kota pedalaman. Terlebih dengan kemajuan transportasi pesawat terbang, maka perkembangan kota pantai jauh ketinggalan. Pengaruh Islam mudah dijumpai sejak dari dari Aceh sampai Papua. Namun sebaliknya, ekspressi keislaman di Indonsia juga sangat dipengaruhi dan diperkaya oleh sekian ragam adat, tradisi dan bahasa yang berkembang di Indonesia.

Fakta ini membuat muslim di Indonesia menjadi unik dan memiliki karakter tersendiri. Antara lain keberagamaan yang toleran dan menghargai tradisi lokal. Sebagian orang mengatakan itu bid'ah dan pendangkalan agama, namun sebagian lagi mengatakan itulah kekayaan budaya muslim Indnesia yang mampu mengakomodasi tradisi lokal tanpa merusak prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Yang paling fenomenal dan historis adalah pembentukan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Sebuah pertemuan dan kompromi antara Islamisme, nasionalisme dan modernisme. Meski umat Islam sebagai warga negara mayoritas, dan sederet nama pejuang kemerdekaan adalah tokoh-tokoh Islam tapi Indonesia menganut paham demokrasi (republik), bukan negara Islam (Islamic State) di mana negara tetap peduli terhadap pembinaan kehidupan beragama yang dipayungi oleh Pancasila dan dilindungi oleh UU.

Ini merupakan jalan tengah (middle path), sebuah ijtihad dan eksperimentasi sejarah yang tidak memperhadapkan antara keislaman dan kebangsaan, antara Islamisme dan nasionalisme. Pancasila merupakan landasan bersama (kalimatun sawa') untuk mengakomodasi dan melindungi keragaman etnis, agama dan kepercayaan penduduk nusantara yang sangat plural ini, dimana semua warga negara memiliki kedudukan sama di depan hukum.

Secara normatif-ideologis nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tercantum dalam Pancasila, yang memiliki akar kultural-filosofis ke masa lalu dan hidup dalam masyarakat, namun sekaligus juga visioner menatap dan menjangkau masa depan. Lebih dari itu, Pancasila juga memiliki rujukan atau sumber transendental, sebagaimana tertera dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kebertuhanan merupakan fondasi dan kesadaran awal yang mesti ditanamkan pada warga negara melalui berbagai jalur pendidikan sejak dini, baik di rumah tangga maupun sekolah. Yaitu kebertuhanan yang menumbuhkan rasa cinta pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan keadaban. Bukan kebertuhanan yang bersikap eskapis, lari dari kepedulian terhadap agenda kemanusiaan. Bukan kebertuhanan yang anti-kemanusiaan dan peradaban. (*)

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved