rokok elektronik

Paru-paru Basah Ancam Penikmat Vape

Penikmat rokok eletronik vape harus ekstra waspada dan hati-hati dengan penyakit yang bakal mengancam meski terlihat kren dan gaya.

Editor: Salman Rasyidin
kompas.com
Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok. Salah satu pengunjung sedang mencoba cairan (liquid e-juice) di The Colony Vape Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (25/8/2016). 

Paru-paru Basah Ancam Penikmat Vape

SRIPOKU.COM – Penikmat rokok eletronik vape harus ekstra waspada dan hati-hati dengan penyakit yang bakal mengancam.

Terlihat sekilas menikmati rokok elekrenik  vape terkesan  kren dan tanpa beban.

Ilustrasi
Ilustrasi (ISTIMEWA)

Sebagai pembelajaran, apa yang dirasakan dan alami penikmat  rokok eletronik di AS bisa jadi renungan.  

Seorang gadis remaja di Pennsylvania memutuskan mencoba rokok elektrik, vape.

Sa­yang­nya, dari coba-coba yang dilakukannya,  gadis ini harus membayar harga yang mahal untuk percobaannya ini.

Baru 3 minggu mengisap vape, gadis ini harus dilarikan ke ruang gawat darurat di University of Pittsburgh Medical Center.

Di rumah sakit, para dokter mencatat gejala yang berkembang di antaranya adalah batuk, ke­sulitan bernapas yang memburuk dari menit kemenit, dan rasa menusuk di dada ketika meng­hirup napas.

Sebelum demam, gadis ini menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti hidung meler dan tersumbat.

Menurutnya, sebelum mengalami masalah ini, dia punya riwayat penyakit asma ringan yang jarang menggunakan inhaler.

Ketika di ruang gawat darurat, batuk gadis ini menjadi lebih sering. Para dokter kemudian memberinya antibiotik.

Sayangnya, kondisinya justru memburuk lebih cepat. Ini menyebabkannya mengalami kegagalan pernapasan.

BPOM Amerika Serikat Digugat "Dia tidak bisa mendapatkan cukup oksigen ke dalam darahnya dari paru-paru dan membutuhkan ventilator mekanik (alat bantu respi­rator­/pernapasan) untuk bernapas hingga paru-parunya pulih," ungkap Dr Daniel Weiner, direktur medis di Children's Hospital of Pittsburgh dikutip dari CNN, Kamis (17/05/2018).

Gadis itu tak hanya butuh alat bantu tersebut, tapi juga tabung yang disisipkan di kedua sisi dadanya untuk mengalirkan cairan dari paru-parunya.

Dokter mendiagnosisnya menderita pneumonitis hipersensitivitas atau yang lebih dikenal dengan istilah paru-paru basah.

Sumber:
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved