Hikmah Ramadhan, Berpuasalah Seperti Ulat Jangan Seperti Ular, Begini Perbedaannya

Nah, dari puasa kedua hewan inilah kita bisa mendapatkan hikmah berpuasa sebagai seorang mukmin. Ada semacam pengistilahan

Hikmah Ramadhan, Berpuasalah Seperti Ulat Jangan Seperti Ular, Begini Perbedaannya
Istimewa
Perbedaan Ulat dan Ular uasai menjalani puasa 

Nah dari sinilah bisa kita ambil kesimpulan bahwa:
Puasa Ulat lah yang sangat sempurna.

Seorang muslim yang berpuasa akan menjadi lebih baik lagi, baik itu sifat, tabiat dan gerak-geriknya yang selalu mendatangkan manfaat.

Hal disebutkan dalam Al quran:
“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

Sebagai Makluk Allah, kita akan menjadi manusia utuh setelah menjalani puasa.

Yakni, menjalankan perintahnya untuk lebih baik lagi sebagai umat Islam sholat 5 waktu di Masjid (bagi laki2), membaca Al-Qur'an dan memahami isinya. Lebih sayang kepada orang tua, istiri, anak-anak saudara seiman. Suka menolong orang lain, dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Wajib Puasa

Maka itu diwajibkan anda sekalian untuk berpuasa, sebagaimana diserukan dalam surat Al Baqaraoh ayat 183.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Dari lafadz ini diketahui bahwa ayat ini madaniyyah atau diturunkan di Madinah (setelah hijrah, pen), sedangkan yang diawali dengan yaa ayyuhan naas, atau yaa bani adam, adalah ayat makkiyyah atau diturunkan di Makka.

Imam Ath Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”

Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Lalu, apakah iman itu?

Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan. Sebagaimana dalam ayat Al Qur’an:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 17)

Secara gamblang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadits:

Demikianlah enam poin yang harus dimiliki oleh orang yang mengaku beriman. Maka orang enggan mempersembahkan ibadah kepada Allah semata, atau menyembah sesembahan lain selain Allah, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang enggan mengimana Muhammad adalah Rasulullah atau meninggalkan sunnahnya, mengada-adakan ibadah yang tidak beliau tuntunkan, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang tidak percaya adanya Malaikat, tidak percaya datangnya kiamat, tidak percaya takdir, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya.

Penulis: Hendra Kusuma
Editor: Hendra Kusuma
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help