Bom Bunuh Diri di Surabaya

Salah Kaprah Paham Agama dan Faktor Ekonomi Jadi Biang Lahirnya Teroris

Para teroris yang nekat menjadi 'Pengantin' atau rela menjadi bomber (pelaku bom bunuh diri-red) hampir rata-rata salah memaknai

Salah Kaprah Paham Agama dan Faktor Ekonomi Jadi Biang Lahirnya Teroris
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Pengamat Sosial Sumsel, Prof Abdullah Idi. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Odi Aria 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pengamat Sosial Sumsel, Prof Abdullah Idi menilai paham agama yang salah alias paham radikal dan faktor ekonomi menjadi biang lahirnya bibit teroris di Indonesia.  

Para teroris yang nekat menjadi 'Pengantin' atau rela menjadi bomber (pelaku bom bunuh diri-red) hampir rata-rata salah memaknai arti dari jihad.

Dengan pemahaman ilmu yang kurang mendalam menyebabkan mereka nekat melakukan perbuatan keji tersebut.

"Paham yang terbatas membuat mereka melakukan aksi pemboman. Karena agama manapun tak ada yang mengajarkan pengikutnya menyakiti manusia yang lain," ujarnya, Senin (14/5/2018).

Baca: DPW NasDem Sumsel Ajak Waspadai Teroris, Sampaikan 5 Pernyataan Sikap Aksi Radikalisme

Tak hanya mengenai paham agama yang salah, faktor ekonomi, lingkungan dan keluarga juga jadi faktor penting masuknya paham yang salah kepada seseorang.

Dalam keadaan yang kalut karena tak memiliki uang, keluarga yang carut marut serta lingkungan memiliki paham radikal membuat seseorang dengan mudah tercuci otaknya untuk menjadi seorang teroris.

"Di Surabaya pelaku pemboman merupakan satu keluarga, artinya paham yang mereka dapatkan sudah disebar langsung terhadap keluarganya," tegasnya.

Abdullah Idi menyebutkan, seseorang dengan

Baca: Ternyata! Sebelum Terjadi Rentetan Bom Bunuh Diri Surabaya, ISIS Rilis Video Mengerikan Ini

mudah termakan bujuk rayu untuk melakukan sesuatu hal apabila dalam keadaan terdesak khususnya apabila terhimpit faktor ekonomi.

Hal tersebut dapat dilihat dari oknum-oknum yang rela berjihad ke Timur Tengah dengan mendapatkan iming-iming hadiah untuk keluarga mereka apabila mau menjadi teroris.

"Terbukti banyak orang mau jihad karena faktor ekonomi, apabila di negara kita ekonominya sudah baik tentu warga tidak tertarik melakukan hal demikian," ujarnya.

Baca: Heboh Teror Bom di Gereja Santa Anna Duren Sawit, Polisi Pastikan Kabar Tersebut Hoax

Maka dari itu, ia menekankan kepada orangtua untuk memberikan pendidikan agama sejak dini secara mendalam berdasarkan kepercayaan masing-masing terhadap anak, mengontrol kegiatan kesehariannya serta mencari tahu lingkungan tempat si buah hati bermain

 "Perkuat pendidikan agama sejak dini secara benar, agar anak-anak kita paham betul. Apabila telah diawasi dengan baik, mudah-mudahan tak akan terjadi lagi aksi teroris," harapnya. 

Baca: Heboh Teror Bom di Gereja Santa Anna Duren Sawit, Polisi Pastikan Kabar Tersebut Hoax

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Reigan Riangga
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help