Inilah Saham Lapis Kedua yang Layak Dilirik Investor

Meski hari Rabu (9/5/2018) IHSG sempat rebound dengan kenaikan yang fantastis, yakni 133 poin, kondisi pasar modal Indonesia bisa dikata sedang

Inilah Saham Lapis Kedua yang Layak Dilirik Investor
Wisata Sekolah
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM , JAKARTA - Meski hari Rabu (9/5/2018) indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat rebound dengan kenaikan yang fantastis, yakni 133 poin, kondisi pasar modal Indonesia bisa dikata sedang dalam tekanan.

Berita Lainnya:  Untung 5.89 T 2017, PTBA Targetkan Penjualan 53 Persen di Pasar Domestik

Tapi bukan berarti investor tidak bisa masuk. Beberapa analis justru menyarankan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk masuk, saat valuasi beberapa saham sedang murah. Tak hanya itu, investor bisa juga bisa mengincar saham-saham second liner, bukan cuma saham-saham big cap.

Mengutip Kontan.co.id, Jumat (11/5/2018), Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengungkapkan, saham-saham lapis kedua atau second liner yang layak untuk dilirik investor berasal dari industri pertambangan dan telekomunikasi.

DOID yang merupakan emiten yang berada di sektor pertambangan batubara dengan potensi kenaikan yang cukup tinggi dengan PER yang cukup rendah dan permintaan batubara yang secara global cukup tinggi bisa mempengaruhi kinerja DOID ke depan.

Kemudian dari sisi produksi juga cukup signifikan, dengan cuaca hujan yang sudah rendah saat ini sehingga produksi bisa ditingkatkan.

“Untuk PER-nya sendiri DOID saat ini sebesar 11,95x dan ini sudah cukup rendah. Secara teknikal pun saham DOID memperlihatkan potensi uptrend,” ujar Nafan, Kamis (10/9).

Dalam jangka panjang, Nafan memberi target harga DOID bisa mencapai Rp 1.390 per saham. Dalam sesi penutupan perdagangan Rabu (9/5/2018), harga saham DOID ditutup di harga Rp 880 per saham, naik 1,15 persen dibanding level penutupan hari sebelumnya.

Sektor pertambangan sendiri dipandang Nafan, didukung oleh permintaan yang lebih tinggi lagi jelang musim dingin di akhir tahun. Kebutuhan batubara, baik untuk domestik dan global juga masih tetap besar. Terutama bagi kebutuhan dalam negeri, di mana pembangunan pembangkit listrik terus berlangsung sehingga membutuhkan banyak pasokan batubara.

Sementara, untuk LINK sendiri pergerakan secara teknikal tidak begitu downtrend. Meski dalam penutupan perdagangan Rabu (9/5/2018) ditutup melemah 0,25 persen, namun pelemahannya kecil dan masih memiliki potensi untuk tumbuh ke depannya.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help