Belajar dari Taman Sriksetra (Lanskap untuk Anak dan Cucu)

Seorang raja Kerajaan Sriwijaya, pada 684 Masehi atau dua tahun setelah pendirian kerajaan tersebut membangun sebuah taman yang diberi nama Sriksetra

Belajar dari Taman Sriksetra (Lanskap untuk Anak dan Cucu)
ist
Oleh Dr. Najib Asmani

Belajar dari Taman Sriksetra
(Lanskap untuk Anak dan Cucu)
Oleh Dr. Najib Asmani
Staf Khusus Gubernur Sumsel bidang Perubahan Iklim/Dosen pada Fakultas Pertanian dan Program Pascasarjana Unsri

asmani
Dr. Najib Asmani

KITA sudah mengetahui jika Sri Jayanasa, seorang raja Kerajaan Sriwijaya, pada 684 Masehi atau dua tahun setelah pendirian kerajaan tersebut membangun sebuah taman yang diberi nama Sriksetra.

Apakah Sriksetra adalah sebuah taman seperti kita pahami saat ini; sebagai ruang rekreasi manusia, landmark sebuah kota atau penjaga oksigen dan candangan air tanah untuk sebuah lingkungan?

Saya pikir tidak.

Saya yakin Taman Sriksetra adalah sebuah lanskap atau bentang alam, yang tujuannya jauh lebih luas.

Kenapa? Berdasarkan pembacaan terhadap teks Prasasti Talang Tuwo, sertifikat yang dikeluarkan Sri Jayanasa dalam pembangunan taman tersebut, menyebutkan pembangunan Sriksetra diperuntukan untuk semua makhluk hidup.

Artinya bukan hanya manusia, termasuk fauna yang sebagian masih kita ketahui hingga saat ini seperti gajah, badak, harimau, serta ternak, yang membutuhkan ruang hidup yang luas.

Kemudian disebutkan beragam flora yang disebut sebagai sumber makanan seperti aren, kelapa, pinang, bambu, labu, yang jelas membutuhkan ruang yang juga luas untuk ditanam, tumbuh dan berkembang.

Lebih jauhnya, disebutkan pula pembuatan banyak bendungan dan kolam, yang menunjukan luasnya taman tersebut.

"Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan." (Teks Prasasti Talang Tuwo, terjemahan George Coedes).

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved