SriwijayaPost/

400 Ribu Pekerja di Sumsel Gantungkan Hidup di Perkebunan Kelapa Sawit

Reaksi keras muncul dari berbagai pihak menyusul adanya kampanye jaringan supermarket Inggris Iceland Co untuk menghentikan penggunaan

400 Ribu Pekerja di Sumsel Gantungkan Hidup di Perkebunan Kelapa Sawit
komoditas.co.id
kebun kelapa sawit 

Baca: Berpesan Segera Bisa Beradaptasi, Yusuf Resmi Lantik Tiga Anggota DPRD PAW Kabupaten OKI

Tetapi terpaan isu tersebut malah membuat kinerja ekspor masih terus tumbuh. Ini menunjukkan bahwa minyak sawit masih merupakan minyak nabati yang sangat vital bagi dunia dan akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan penduduk yang kian meningkat.

"Karena inilah persaingan dagang minyak nabati semakin ketat. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah diharapkan bisa jeli dalam melihat permasalahan. Apalagi Sumsel termasuk dalam urutan tiga besar penghasil produksi kelapa sawit," jelas Hari.

Baca: Lama Dikeluhkan Warga, Anggota DPRD Empatlawang Pastikan Air PDAM Mengalir Lancar di Pendopo 

Malah menurut Hari, hingga akhir 2017 kemarin ekspor kelapa sawit Sumsel ke Luar Negeri masih berjalan, bahkan seperti Amerika Serikat jumlah ekspornya mengalami peningkatan signifikan.

Sementara itu, kecaman juga dilontarkan Sumarjono Saragih, Kordinator Jaringan Pekerja Sawit Indonesia, "Voice of Tenera". Menurutnya, Jaringan Supermarket Inggris, Iceland baru saja buat ulah. Dimana mereka menolak dan melarang menjual produk yang mengandung minyak sawit.

"Alasannya tidak masuk akal. Motifnya hanya persaingan dagang," ujarnya.

Baca: Angkut Batubara Melalui Kereta, PT GGB Lahat tak Hanya Ingin Eksploitasi

Lebih lanjut, kata Sumarjono, Sawit tidaklah merusak lingkungan seperti yang dituduhkan. Justru menghijaukan bumi. Sawit lebih efisien dan produktif. Menghasilkan minyak 5x lbh besar dibanding minyak kedelai. Artinya kedelai memerlukan lahan 5x lebih luas dan mereka juga harus membabat hutan 5x lebih.

"Dan mereka sudah kehabisan hutan karena sudah lebih dahulu dibabat. Namun dengan propaganda seolah 'peduli dan pahlawan hutan', mereka berubah menjadi 'penjahat kemanusiaan'. Karena dampak propaganda negatif dan hitam itu bisa membunuh sumber nafkah sekitar 16 juta pekerja di Indonesia," ujar Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)

Halaman
123
Penulis: Rahmaliyah
Editor: Reigan Riangga
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help