Milenial Hijrah, Murni dari Hati atau Sekedar Tren

Makin banyak anak-anak muda Palembang memutuskan hijrah. Tim Lepass berhasil memintai komentar mereka yang melakukannya.

Milenial Hijrah, Murni dari Hati atau Sekedar Tren
sripoku.com/lepass
Sejumlah pelajar yang memutuskan hijrah. 

Laporan wartawan Lepass

SRIPOKU.COM, PALEMBANG--Mengenakan busana serba longgar serta tertutup untuk kalangan perempuan atau membiarkan jenggot panjang dan mencukur kumis hingga makin rajin menjalankan ibadah, sependapat bukan kalau pemandangan ini semakin banyak kita lihat?

Dan, teman-teman kita yang masih berusia muda mulai pula melakukannya. Lalu, apa alasan mereka hijrah? Yuk, simak penelusuran tim Lepass kali ini.

Ada cerita dari Annisa Nafiya, pelajar SMAN 17 Palembang yang sekarang membiarkan hampir semua bagian wajahnya tertutup cadar. Keputusan ini ia buat akhir tahun lalu. Tapi, proses untuk membulatkan tekatnya ini sudah sejak dirinya duduk di bangku SMP.

"Awalnya ada perasaan jenuh dengan kehidupan yang biasa kami lakukan, hingga kami akhirnya iseng cari kegiatan baru. Dan kegiatan itu adalah jadi pengurus masjid. Sejak saat itu saya kepikiran hijrah," kata Anik, belum lama ini.

Masih ada komentar lain dari sejumlah teman kita yang sudah hijrah. Mau tau? Kepoin aja Lepass edisi Minggu (8/4/2018). Salam pers!!!

Sejak mengenakan cadar, bahkan masih ia pakai ketika liburan ke Padang, reaksi yang didapat Anik beragam. Syukurnya, yang tidak setuju nihil, tapi yang nyinyir diakuinya cukup banyak. Dan, yang utama, keputusab Anik ini disambut hangat oleh sang ayah.
Hijrah, yang dalam istilah agama Samawi artinya berpindah, juga melanda Daffa. Pelajar SMK Negeri 2 Jurusan Teknik Komputer Jaingan ini mengungkapkan banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Adapun alasan ia melakukan hijrah bukan karna mengikuti fenomeba inibdi kalangan remaja, tetapi murni ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan dekat dengan Sang Pencipta. Mulai dari sikap, pemikiran, dan tindakan, semuanya ia sesuaikan dengan apa yang sudah ia putuskan ini.
Malah, lanjut Daffa, keputusanya ini mendalat respon baik dan didukung oleh teman sekolahnya lho.
"Kami juga sering ikut kajian atau majelis bareng", tutur Daffa.
Setelah hijrah, Daffa mengungkapkan bahwa ia lebih berhati-hati terhadap perkara antara halal dan haram, terutama saat ke arah percintaan anak muda. Ini didukung pula dengan wejangan dari ibunya untuk tidak dekat dulu dengan perempuan.
Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh Miftah, pelajar asal SMK Negeri 2 Palembang. Dia berpendapat bahwa hijrah itu untuk membuat diri menjadi lebih baik, meskipun susah, khususnya tentang keagamaan. Miftah mengungkapkan ia mulai mengenakan pakaian syar'i sejak bulan Desember. "Karena ada dorongan dari dalam diri, dan sempat introspeksi, kalau gaya dulu gak baik dilihat dan juga tidak nyaman." Miftah juga merasa kasihan dengan para orang tua yang anaknya berpakaian tidak menutup aurat. Dan Miftah sangat percaya diri dengan pakaian hijab yang ia kenakan sekarang. Karena berpakaian yang sesuai tuntunan agama itu baik dalam pandangan Agama dan juga masyarakat.
Moga aja fenomena hijrah ini memang murni timbul dari hati ya gengs. Jangan sampai, cuma sebatas tren layaknya kalangan seleb yang melepas hijab. Salam pers.(fix/tim/rap)

Penulis: Lepass
Editor: Refly Permana
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help