Khunsta, Bukan LGBT

Diskursus LGBT perlu ditanggapi secara akademik dengan memosisikan pembahasannya antara lain melalui pendekatan fikih

Khunsta, Bukan LGBT
DR Muhammad Adil

Oleh: Muhammad Adil

(Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang)

Diskursus LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) perlu ditanggapi secara akademik dengan memosisikan pembahasannya antara lain melalui pendekatan fikih atau studi hukum keluarga Islam (fikih or Islamic family law approach).

Tujuannya, supaya masyarakat, terutama masyarakat Muslim mendapatkan pemahaman yang utuh tentang duduk persoalannya.

Dan, bagi umat serta pihak lain yang terkait, dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan tanggapan dan penilaian.

Memosisikan, maksudnya, mencari solusi yang adil dan bijaksana untuk mereka sebagai bentuk partisipasi akademik yang dapat dijadikan rujukan oleh masyarakat.

Jika, ada cantolan aturannya dalam teks-tek suci keagamaan, maka keberadaan mereka harus diakui.

Tapi, jika tidak, maka perlu diluruskan.

Manfaat lainnya, agar pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tepat untuk membantu menyelesaikan dan memperjelas kondisi mereka.

Demi hidup berdampingan secara lebih layak sebagai bagian dari anggota masyarakat.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved