Ekspor Petani Pisang Mas Binaan PT. Great Giant Pineapple Naik 4 Kali Lipat

Kelompok tani tersebut merupakan petani binaan dari PT. Great Giant Pineapple (GGP).

Ekspor Petani Pisang Mas Binaan PT. Great Giant Pineapple Naik 4 Kali Lipat
TRIBUN BATAM
Ilustrasi Petani Pisang. 

LAMPUNG -- Kelompok tani pisang mas di Tanggamus, Lampung Timur, akan menjadi kelompok tani pertama yang menerima manfaatf asilitasSub-Kontrak Kawasan Berikat yang diberikan oleh DirektoratJenderal Bea danCukai (Bea Cukai).

Kelompok tani tersebut merupakan petani binaan dari PT. Great Giant Pineapple (GGP), yang merupakan produsen dan eksportir nanas dan pisang yang melakukan usahanya secarater integrasi.

Menurut Government Relations and External Affair Director GGP, Welly Soegiono, saat ditemui  di Jakarta, Minggu (25/3/2018), keberadaan fasilitas sub-kontrak Kawasan Berikat Bea Cukai di lahan petani ini merupakan fasilitas pertama yang diberikanoleh Bea Cukai di Indonesia, dan kelompok tani binaan GGP juga menjadi kelompok tani pertama pemanfaat fasilitas ini.

“Kelompok tani binaan kami akan menjadi kelompok tani pertama pemanfaat fasilitas sub-kontrak kawasan berikat Bea Cukai, dan fasilitas ini juga yang akan kami presentasikan kepada Presiden RI, JokoWidodo, pada Selasa (27/3/2018), saat meninjau acara yang diadakan oleh Bea Cukai yang bertema “Silaturahmi Presiden RI dengan Pengguna Fasilitas Kepabeanan dan Peluncuran Perizinan Online,” papar Welly.

===

Dengan tagline dari Bea Cukai, “Izin mudah, ekspor melimpah, investasi tambah, dan rakyat semringah” dalam kesempatan tersebut Presiden RI, Joko Widodo bersama Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dan Dirjen Bea Cukai, HeruPambudi, akan meluncurkan system perizinan online fasilitas kawasan berikat dari sebelumnya yang membutuhkan waktu 10 hari masa pengurusan, kini dipangkas menjadi hanya 1 (satu) jam waktu pengurusannya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga pemangkasan waktu perizinan bagi 45 izin transaksional menjadi tiga izin yang dilakukan secara online. 

Menurut salah seorang perwakilan kelompok tani, Soleh, dari Kelompok Tani Hijau Makmur di Tanggamus, Lampung, sebelum ada fasilitasi dari Bea Cukai, petani sulit memperoleh pupuk yang berkualitas.

“Selain itu harga pupuk bersubsidi juga mahal, apalagi jika dibandingkan dengan harga pupuk impor, selisihnya bias sampai berkali-kali lipat,” ujar Soleh.  

Welly menuturkan, “Karena produk perusahaan kami adalah komoditi pertanian hortikultura, faktor penentuan biaya produksi (Production cost) yang lebih efisien menjadi tantangan untuk dapat bersaing dalam pasar internasional.”

Halaman
1234
Editor: Ahmad Sadam Husen
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved