SriwijayaPost/

Hampir 17 Tahun Tinggal di Indonesia, WNA Jerman Ini Mengaku Senang

"Saya senang sekali tinggal di Indonesia, orangnya ramah-ramah dan banyak tempat yang indah," ujar suami Hubert ini.

Hampir 17 Tahun Tinggal di Indonesia, WNA Jerman Ini Mengaku Senang
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Elke Rapp, anggota Team Transformasi GIZ asal Jerman.

SRIPOKU.COM, MUARAENIM - Ada yang menarik perhatian dalam kegiatan Team Transformasi GIZ (Deutsche Gesellschaft Internationale Zusammenarbeit) untuk melakukan Pembinaan dan Pendampingan Inovasi Pelayanan Publik untuk Inovator-inovator Muaraenim di Ruang Rapat Pangripta Nusantara Bappeda Kabupaten Muaraenim, Kamis (8/3).

Sosok perempuan WNA German yang lahir pada tanggal 7 Agustus 1960 yang menjadi salah satu narasumber dari team Transformasi GIZ Elke Rapp, meski belum fasih dengan bahasa Indonesia terbata-bata (belum lancar), tampak bersemangat memberikan ilmunya untuk berbagi dengan para inovator-inovator dari Kabupaten Muaraenim.

"Saya senang sekali tinggal di Indonesia, orangnya ramah-ramah dan banyak tempat yang indah," ujar suami Hubert ini.

Menurut ibu dua anak ini, ia tinggal di Indonesia bersama suami dan kedua anaknya sudah hampir 17 tahun, bahkan kedua anaknya sekolah hingga tamat SMA, dan sekarang melanjutkan ke Perguruan Tinggi di German.

Sebagian besar Indonesia sudah ia kunjungi, bahkan ia pernah tinggal di Kalimantan, Sulawesi, Aceh, Bali dan terakhir di Jakarta.

Karena ia hobi jalan-jalan dan traveling. Hampir semua daerah yang ia kunjungi indah dan mempesona, budaya, adat dan makanannya bermacam-macam.

Dan ia juga sudah mencoba berbagai masakan dan makanan, namun ia tidak terlalu suka masakan yang pedas-pedas karena tidak kuat.

"Kalau rendang tidak tahan pedasnya, kalau pempek tidak pakai cuka tapi suka rasa ikannya, kalau gado-gado suka karena tidak pedas, begitu juga nasi goreng," ujarnya.

Masih dikatakan Elke, waktu pertama ia tiba ke Muaraenim, kesan pertamanya adalah Hijau. Ia senang sekali, karena berbeda sekali dengan Jakarta yang sudah penuh dengan gedung-gedung pencakar langit dan pemukiman sehingga terkesan gersang.

Dan ia sangat prihatin dengan kondisi pantai Florest, sebab dinilainya sudah kotor banyak sampah.

Padahal beberapa tahun yang lalu ia berkunjung pantainya sangat bersih dan alami. Untuk itu mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk budayakan hidup bersih dan jangan membuang sampah sembarangan, bila perlu dari sampah buat menjadi barang berharga yang mempunyai nilai ekonomis.

Dan ini dimulai dari Kabupaten Muaraenim untuk menjadi contoh daerah lain.

Kita mulai lakukan inovasi-inovasi, tidak perlu yang berat-berat dan mengeluarkan biaya besar, cukup dari Inovasi yang sederhana namun hasilnya luar biasa. Sebagai contoh Tranformasi yang sudah diuji coba di Jawa Timur, seperti Inovasi Pinger Print untuk puskesmas, membuat praktis pasien dimana petugas tidak perlu terlalu lama mencari buku pasien.

Menerapkan inovasi sederhana tetapi efeketif dan bisa ditiru oleh daerah lain.

"Kami melihat di beberapa tempat namun tidak seperti di Muaraenim, inovator dan pemerintahnya mempunyai spirit inovasi kemauannya tinggi. Di Sumsel yang paling semangat baru di Muaraenim.
GIZ ini tersebar di 100 negara di dunia. Kita ingin saling sharing knowledge, siapa tahu inovasi di sini bisa diterapkan di Jerman, dan begitu sebaliknya," katanya.(ari)

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help