Eksklusif Sriwijaya Post

Mimpi Indah Warga di Ujung Jembatan Gantung: Kami Ingin Rumah Mewah Mobil Keren

Keberadaan jembatan gantung di Kabupaten Lahat, terbilang cukup banyak dan diperkirakan hingga ratusan

Mimpi Indah Warga di Ujung Jembatan Gantung: Kami Ingin Rumah Mewah Mobil Keren
SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
Salah satu jembatan gantung yang berada di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Lematang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Keinginan warga untuk merenovasi rumah, memiliki kendaraan dan hidup normal, seperti kebanyakan orang umumnya, menjadi impian masyarakat Desa Pagar Batu, Kabupaten Lahat. Namunseberapa banyak uang yang dimiliki untuk membangun rumah mewah, bahkan membeli mobil terbaru, tak bisa dilakoni warga. Akses jalan satu-satunya menuju desa hanya bisa ditempuh dengan jembatan gantung (canopy trail) .

Ternyata persoalan ini tidak yang dialami warga Desa Pagar Batu saja, tetapi banyak dirasakan ribuan kepala keluarga di Kabupaten Lahat, yang terkenal memiliki ratusan jembatan gantung sebagai akses utama bagi mereka yang tinggal di kawasan terpencil. Hal yang sama terjadi Muaraenim dan Baturaja (OKU).

Belum diketahui siapa pertama punya ide membangun jembatan gantung. Namun yang pasti, keberadaan jembatan gantung di Kabupaten Lahat, terbilang cukup banyak dan diperkirakan hingga ratusan. Merupakan wilayah perbukitan, keberadaan jembatan gantung sangat berarti bagi warga di Bumi Seganti Setungguan. Pasalnya, tidak saja menjadi akses bagi pemukiman penduduk, namun keberadaan jembatan yang terbuat dari besi baja, kawat besi, besi dan papan ini juga menjadi akses untuk menuju ke lokasi pertanian.

Baca: Asal Kualitas Bahan Bagus, Jembatan Gantung Bisa Tahan Hingga 15 Tahun

Dari pantauan di lapangan, beberapa desa di Kabupaten Lahat, jembatan gantung begitu vital fungsinya, baik untuk akses jalan pemukiman maupun ke ladang pertanian seperti kebun kopi, karet.

Jembatan gantung membuka isolasi. Pasalnya, tidak ada akses lain bagi warga desa ini untuk keluar desa. Wargapun seperti warga Desa Pagar Batu, Desa Perigi seperti 'Jauh panggang dari api jika ingin desa bisa dimasukki kendaraan roda empat. Meski ada warga yang memiliki mobil, namun kendaraan roda empat tersebut tidak bisa masuk desa, alih alih jika ingin ada garasi di rumah. Warga terpaksa menitipkan kendaran ke desa tetangga. Masalah lain, warga juga kesulitan jika hendak membangun rumah atau fasilitas umum. Pasalnya, material yang digunakan tidak bisa masuk ke desa sekaligus, tapi harus diangkut berangsur menggunakan gerobak hingga membutuhkan biaya tambahan.

Hal ini seperti diakui Kepala Desa Pagar Batu, Kecamatan Pulau Pinang, Lahat, Sepriadi. Dikatakanya, sejak didiami puluhan tahun lalu bahkan hingga ratusan tahun, desanya tersebut sudah memiliki jembatan gantung dan menjadi jalan andalan satu satunya.
Tanpa jembatan gantung warga tidak bisa masuk desa kecuali menggunakan perahu. Pasalnya, ujar Sepriadi desanya tersebut dipisahkan aliran sungai Lematang jika hendak menuju ke jalan lintas Lahat-Pagar Alam.

"Kalau persisnya kita tidak tahu kapan jembatan ini dibangun karena ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita dahulu dan itupula yang membuat warga tidak mau meninggalkan desa untuk pindah ke tempat lain. Yang pasti saat kami dan tetua desa lahir sudah ada jembatan tersebut. Dan hingga kini masih jadi andalan bagi ratusan jiwa warga kami untuk menjalankan segala aktivitas, ke sekolah, ke kantor, ke pasar dan aktivitas lain," ungkapnya.

Salah satu jembatan gantung yang berada di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Lematang.
Salah satu jembatan gantung yang berada di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Lematang. (SRIPOKU.COM/EHDI AMIN)

Dituturkan Sepriadi, warga sendiri sangat berharap adanya jalan lain seperti jembatan permanen yang bisa dilintasi mobil. Terlebih, tidak sedikit warganya yang sudah berkemampuan. Tak hanya itu, akses yang layak jauh akan lebih aman dan ekonomis bagi warga. Menurut Sepriadi, jika jembatan putus maka warga desanya akan terisolir. Kendati demikian, ia dan warganya sendiri sangat bangga atas keberadaan jembatan tersebut selain menurut dia terpanjang di Sumsel, dengan panjang 300 meter jembatan tersebut merupakan sejarah bagi desanya. Warisan yang tidak semua desa bisa memilikinya. Tak hanya itu, desanya kerap didatangi wisatawan walau hanya sekedar untuk berfoto.

"Ya kami sangat berharap ada pembangunan jalan menuju ke desa. Bahkan kami sudah beberapa kali mengusulkan namun belum terwujud. Memang tidak sedikit dana yang dibutuhkan. Namun demikian kami masih berharap jembatan in tetap dipertahankan. Kalau rusak sejauh ini direhab saja," tuturnya.

Salah satu jembatan gantung yang berada di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Lematang.
Salah satu jembatan gantung yang berada di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumsel. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Lematang. (SRIPOKU.COM/EHDI AMIN)

Senada, apa yang disampaikan Indra warga Desa Perigi, Kecamatan Pulau Pinang. Di desa ini jembatan gantung juga merupakan satu-satunya akses bagi warga desa tersebut. Bertetangga dengan Desa Lubuk Sepang, Desa Perigi juga dikeliling perbukitan dan dibelah sungai Lematang jika harus ke desa lain. Dikatakanya, tidak saja terbatasnya kendaraan yang bisa masuk, warga juga kadang takut melintas disaat turun hujan. Dan angin bertiup kencang. Pasalnya, jembatan bergoyang dan bisa membahayakan keselamatan.

Dituturkanya, sekitar dua tahun lalu jembatan sempat rusak dan tak bisa dilalui. Akibatnya, warga tidak bisa Keluar masuk desa. Beruntung, Pemkab Lahat menyediakan perahu karet sehingga anak anak sekolah bisa pergi bersekolah begitu juga dengan aktivitas warga lainya.

"Tentu kami sangat berharap adanya pembangunan jalan. Dan kami yakin desa akan lebih maju lagi, " harapnya. (cr22)

Penulis: Ehdi Amin
Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved