Mengharap Berkah di Makam Buyut Fatimah.

Siti Fatimah sendiri merupakan cikal bakal legenda di Pulau Kemaro yang masih sangat dihormati oleh masyarakat Palembang.

Mengharap Berkah di Makam Buyut Fatimah.
SRIPOKU.COM/Rangga
Para panitia sibuk membungkus bunga 7 rupa yang akan dibagikan kepada masyarakat. Bunga ini dianggap sebagai salah satu bentuk berkah, Rabu (28/2). 

Laporan Wartawan Sriwijaya Post Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pulau Kemaro  penuh dengan nuansa campuran adat dan kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan ramainya orang Indonesia keturunan Thionghoa dan Muslim yang datang mengharap berkah dari altar atau makam Buyut Siti Fatimah.

Siti Fatimah sendiri merupakan cikal bakal legenda di Pulau Kemaro yang masih sangat dihormati oleh masyarakat Palembang. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal dan merawat pulau tersebut. Berbagai cara dilakukan masyarakat dalam menjaga agar legenda tersebut dapat tetap hidup.

Tidak sedikit, masyarakat datang dalam momen Cap Go Meh mengharapkan berkah dari altar tersebut. Saat ditemui Zulkarnain (45) salah satu panitia perayaan Cap Go Meh mengungkapkan, bahwa banyak masyarakat hadir ke Kelenteng yang ada di Pulau Kemaro selain berdoa juga mengharap berkah dari altar yang ada di sini.

"Semua orang datang setiap tahunnya untuk mengharapkan berkah dari Buyut Siti Fatimah, dan ini sudah menjadi tradisi yang tidak akan pernah dilewati," ungkap Zul saat menjaga Altar Buyut Siti Fatimah.

Bahkan para pengunjung yang datang akan bersimpuh sambil mengucapkan doa berharap keberkahan. Doanya pun bermacam. Zulkarnain menambahkan, kebanyakan pengunjung akan meminta dimudahkan dalam urusan rezeki dan mengharap keberkahan dari rumahnya.

Hal ini dilakukan pengunjung dengan mengambil bunga 7 rupa yang telah dibungkus kain bewarna kuning.  Tidak hanya dilakukan oleh warga Thionghoa, tidak sedikit penduduk lokal mempercayai tradisi yang telah berlangsung sejak tahun-tahun sebelumnya itu.

"Kalau soal minta berkah semua masyarakat boleh mengambilnya dan disediakan secara gratis, silakan ambil tanpa dipungut biaya," ungkapnya.

Sementara itu dari banyaknya acara yang dilakukan di Pulau Kemaro, terlihat gemerlapan Cap Go Meh dari warna khas warga tionghoa, merah, begitu dominan tampak di Pulau Kemaro. Puluhan tenglong yang sudah digantung membuat Pulau Kemaro merah membara.

Tidak sampai disitu berbagai pertunjukkan barongsai hadir menyemarakan perayaan hari 13 dalam penanggalan tahun baru China tersebut. Tim barongsai pun berhasil menghibur warga yang hadir di Pulau Kemaro. Tak lelah, pemain barongsai yang mengenakan kostum merah itu menghibur warga yang merayakan Cap Go Meh. (mg2)

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help