Beras Impor Jangan Masuk OKU Timur

Jika beras impor tersebut masuk ke OKU Timur tentu saja akan menyakiti petani yang selama ini diminta untuk meningkatkan hasil panen.

Beras Impor Jangan Masuk OKU Timur
SRIPOKU.COM/LENI JUWITA
Pedagang beras ditingkat pengecer mematok harga berkisar Rp 10.000/kg. 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Kebijakan pemerintah pusat yang melakukan impor beras bersamaan dengan masuknya musim panen dinilai sangat menyakitkan petani.

Pemerintah yang sebelumnya berupaya menekan kenaikan harga beras malakukan impor yang justru bersamaan dengan panen yang tentu saja akan membuat stok beras melimpah dan menyebabkan anjloknya harga beras.

"Tentu saja stok beras akan melimpah karena impor bersamaan dengan musim panen. Petani akan merasakan hasil jerih payah dan keringatnya tidak dihargai karena harga beras anjlok akibat impor yang tidak tepat waktu," ungkap Herman (24) warga Belitang Senin (19/2).

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian OKU Timur Ir Ruzuan Efendi MSi mengatakan, OKU Timur sebagai salah satu daerah penghasil pangan terbesar di Sumsel telah menyatakan menolak kebijakan impor beras.

Sebab menurutnya masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang mengalami surplus beras dan mampu memenuhi kebutuhan beras secara nasional.

“Kalaupun pemerintah terpaksa melakukan impor beras dan sudah ada yang tiba di Indonesia, maka dengan tegas kita menolak beras impor tersebut masuk ke OKU Timur. Harapan kita beras impor tersebut didistribusikan ke daerah lain yang bukan merupakan penghasil pangan," katanya.

Ruzuan beralasan, jika beras impor tersebut masuk ke OKU Timur tentu saja akan menyakiti petani yang selama ini diminta untuk meningkatkan hasil panen.

Namun ketika petani sudah berupaya sekuat tenaga meningkatkan hasil panen, pemerintah justru membeli dari luar dan menjualnya kepada masyarakat yang selama ini disuruh meningkatkan hasil panen.

"Alasan penolakan beras impor masuk OKU Timur karena sejak 18 Januari 2018 sebagian petani OKU Timur sudah mulai melakukan panen. Dari total luas tanam padi tahun 2017-2018 yang mencapai 180 ribu hektar, diperkirakan luas panennya mencapai 170 ribu hektar. Luas tanam ini sendiri terus berlangsung selana tiga kali dalam satu tahun.

“OKU Timur telah melakukan panen raya sejak 18 Januari dan panen akan terus berlangsung hingga akhir Maret mendatang. Puncak panen rayanya terjadi bulan Februari ini. Jika petani sudah mulai panen ditambah beras impor yang masuk, bisa berpengaruh pada harga beras yang mengakibatkan harga beras justru menjadi anjlok karena stok beras menjadi berlimpah," katanya.

Karena itu kata dia, pemerintah berharap agar beras impor tidak masuk OKU Timur karena hasil produksi panen telah melebihi satu juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 600 ribu ton beras. (hen).

Penulis: Evan Hendra
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help