Pria Ini Nekat Habisi Istri dan Dua Putri Tirinya yang Masih Remaja. Caranya Mengerikan

Saya dengar suara gitu, seperti kepala dibenturin ke tembok. Saya enggak berani menolong karena takut

Pria Ini Nekat Habisi Istri dan Dua Putri Tirinya yang Masih Remaja. Caranya Mengerikan
pisau 

"Korban ini jadi saksi kunci dan butuh pengamanan agar cepat terungkap," kata Harry.

Sementara itu, Kombes Yayok Witarto, Kabid Pelayanan Medik dan Perawatan RS Polri, mengatakan, saat ini kondisi kesehatan Pendi sudah membaik.

"Saat ini sudah bisa komunikasi. Secara umum relatif baik, komunikasi baik, kemudian parameter media semuanya baik. Kami masih observasi sama dokter bedah dan psikiater juga," kata Yoyok.

Bau Anyir

Bau anyir seketika menyeruak ketika petugas kepolisian mengeluarkan barang bukti pembunuhan yang terjadi di Blok B6 Nomor 05 RT 005 RW 012 Perumahan Taman Kota Permai 2, Priuk, Tangerang.

Barang bukti tersebut dikeluarkan untuk keperluan konferensi pers pada Selasa (13/2/2018) di depan rumah yang menjadi lokasi pembunuhan tersebut.

Sejumlah barang bukti, seperti pakaian korban, seprai, guling, sebilah belati, dan tas diperlihatkan dalam jumpa pers.

Saat itu, darah yang menempel pada pakaian korban dan seprai menimbulkan bau anyir.

Warga di sekitar lokasi konferensi pers pun menutup hidung mereka lantaran tak tahan mencium bau anyir tersebut.

Petugas kepolisian langsung menutup kembali pakaian dan seprai milik korban yang berbau anyir itu.

Tersangka

Polisi akhirnya menetapkan Muchtar Effendi (60) sebagai tersangka pembunuhan satu keluarga di Perumahan Taman Kota Permai 2, Priuk, Tangerang yang terjadi pada Senin (12/2/2018).

"Dari hasil keterangan awal dan saksi serta petunjuk di TKP, sudah kami tetapkan kalau saksi mahkota, Muchtar Effendi, menjadi tersangka pembunuhan di Perumahan Taman Kota Permai 2," kata Kapolres Metro Tangerang Kombes Harry Kurniawan di lokasi kejadian, Selasa (13/2/2018).

Pria yang disapa Pendi itu diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan terhadap istrinya bernama Emma (40) dan kedua putrinya yang bernama Nova (19) dan Tiara (11).

Harry menyampaikan, perbuatan Pendi tersebut didasari atas ketidaksetujuan Pendi perihal pembelian mobil yang dilakukan oleh Emma.

"Jadi tiga hari sebelum pembunuhan, keduanya terlibat cekcok karena tersangka ini tidak mau memberikan uang cicilan untuk membayar mobil yang dibeli oleh Emma.

Dari situ tersangka terus bertengkar dan berniat membunuh istrinya tersebut," kata Harry.

Terlanjur kesal, Pendi kemudian membunuh istri dan kedua anaknya menggunakan pisau yang telah dia sembunyikan di dalam lemari baju beberapa hari sebelumnya.

Harry juga mengatakan, Pendi beberapa kali menusuk ketiga korbannya di bagian perut dan leher sehingga membuat mereka tewas.

"Saat ditemukan, ketiga korban meninggal ada di kamar depan dengan luka di bagian perut dan leher, sedangkan tersangka ada di kamar belakang dengan luka parah juga.

Dia melukai badannya sendiri untuk mengakhiri hidupnya, pisau juga ditemukan di kamar tersebut," tutur dia.

"Dari analisa kami, pelaku itu melukai dirinya dengan pisau yang kemudian pisau itu disembunyikan di bawah lemari," ucap Kapolsek Jatiuwung Kompol Eliantoro Jalmaf, di lokasi kejadian, Tangerang Selatan, Selasa (13/2/2018).

Akibatnya, Pendi mengalami luka di leher dan perut. Namun, luka akibat sayatan di leher itu tak membuat Pendi terluka parah.

Meski demikian, kondisi Effendi masih terlalu lemah dan tidak bisa berbicara jelas sehingga sulit menjalani pemeriksaan.

"Yang bersangkutan masih sulit berbicara. Jadi, tidak bisa diperiksa intensif," katanya.

Kapolres Metro Tangerang Kombes Harry Kurniawan menjelaskan, saat ini, pihaknya masih mendalami motif pelaku yang berniat mengakhiri hidupnya tersebut.

"Motifnya masih kami dalami. Pada saat itu, tersangka melukai diri sendiri untuk mengakhiri hidupnya," ujar Harry.

Adapun Pendi saat ini masih dirawat di Rumah Sakit (RS) Polri Kramatjati, Jakarta Timur. Menurut Harry, kondisi dia masih lemah.

Atas perbuatannya itu, Pendi dikenakan Pasal 338 juncto Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan hukuman penjara seumur hidup.

Berita ini dirangkum dari Kompas.com.

Editor: Sudarwan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help