Home »

News

» Sains

Hati-hati! Kekurangan Zat Besi pada Anak Berbahaya, Lakukan Hal Ini

Jika anak Anda menunjukkan perubahan perilaku fisik seperti pucat, lemas, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi, segera konsultasikan ke dokter.

Hati-hati! Kekurangan Zat Besi pada Anak Berbahaya,  Lakukan Hal Ini
www.youtube.com
Jika anak menunjukkan perubahan perilaku fisik seperti pucat, lemas, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi, segera konsultasikan ke dokter. 

SRIPOKU.COM - Jika anak Anda menunjukkan perubahan perilaku fisik seperti pucat, lemas, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi, segera konsultasikan ke dokter. Dikhawatirkan, anak terkena defisiensi zat besi. Selain memeriksa gejala fisik, dokter juga akan melakukan cek darah.

Berita Lainnya:  Ini Tandanya, Bayi Anda Kekurangan Zat Besi

Itu disampaikan Meta Herdiana Hanindita, dokter speasialis anak di sela-sela acara peluncuran buku terbarunya di Jakarta, pada Jumat (9/2/2018).

Zat besi membantu pembentukan sel darah merah dan hemoglobin.Jika asupan zat besi berkurang, produksi sel darah merah dan kandungan hemoglobin bisa turun.

Defisiensi zat besi terjadi jika asupan zat besi dari makanan anak tidak mencukupi. Obesitas dan kebiasaan minum susu murni berlebih juga memicu timbulnya defisiensi zat besi.

“Tahunya setelah dikonsultasikan ke dokter. Dilihat tanda fisik dan tes darah. Biasanya karena kurang makan-makanan yang mengandung zat besi,” ujar Meta.

Anak usia enam bulan berpotensi terkena defisiensi zat besi. Pasalnya, kandungan zat besi alami yang ada di air susu ibu (ASI) sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan jumlah zat besi harian.

Untuk itu, sejak usia enam bulan anak sudah harus diberi asupan zat besi tambahan lewat makanan.

Makanan Pendamping ASI (MPASI) membantu menyuplai 10,8 miligram zat besi bagi tubuh. Lantaran ASI hanya mampu menyediakan 0,2 miligram, padahal tubuh memerlukan 11 miligram zat besi tiap harinya.

Makanan yang dianjurkan untuk meningkatkan zat besi pada tubuh anak misalnya ati ampela, daging ayam, daging sapi, bayam, dan tahu. Orang tua bisa mengombinasikan bahan-bahan tersebut saat mengolah makanan bagi anak.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help