SriwijayaPost/

Fakta Terbaru Soal Kecelakaan Tanjakan Emen, Rupanya Sebelum Kecelakaan Ada Penumpang Minta ini

Kecelakaan yang melibatkan sebuah bus pariwisata ini sendiri terjadi pada Sabtu (10/2/2018) pukul 17.00 WIB.

Fakta Terbaru Soal Kecelakaan Tanjakan Emen, Rupanya Sebelum Kecelakaan Ada Penumpang Minta ini
Kolase Sriwijaya Post/Net

Kartono, adik korban selamat bernama Supriono, sempat membeberkan upaya sopir bus, Amiruddin, menghindari kecelakaan maut di Turunan Emen, Subang, Jawa Barat.

Sebelum kecelakaan maut terjadi, sopir Amiruddin mengendarai bus bernomor polisi F 7959 AA secara zig zag

 Beberapa kali Amiruddin mendekatkan bodi bus ke tebing turunan Emen.

"Penumpang itu, ibu-ibu pada histeris, iya teriak pas tau mobil enggak bisa direm," ujar Kartono saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang Selatan, Senin (12/2/2018).

Menurutnya, bus yang membawa rombongan anggota Koperasi Simpan Pinjam Pratama Ciputat ini semula berjalan perlahan.

Akan tetapi, seorang penumpang tiba-tiba meminta sopir untuk mempercepat laju kendaraan lantaran ingin segera istirahat di rumah.

"Itu bus tadinya jalannya pelan, lalu kenceng, lama-lama kok makin kenceng," ucap Kartono seraya mengulang perkataan dari saudaranya.

Amiruddin yang belakangan diketahui beralamat di Bogor itu dikabarkan tidak mengalami luka serius.

Polisi pun berhasil mengungkap fakta baru yang diperoleh dari Amiruddin.

Rupanya Amirudin sendiri sudah mengetahui jika kondisi kendaraannya dalam keadaan tidak normal.

Dilansir dari Tribun Jabar, Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Prahoro Tri Wahyono mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, kecelakaan ini disebabkan bus bernomor polisi F 7959 AA itu mengalami rem blong.

Amir mengaku sudah menyampaikan ke pihak manajemen PO (Perusahaan Otobus Premium Passion), terkait masalah rem tersebut.

Amir sempat menghentikan bus di sebuah rumah makan untuk mengecek kendaraan.

"Sang sopir sudah menyampaikan minta ganti mobil karena merasa sudah ada masalah di rem bus tersebut," ujar Prahoro.

Namun, berdasarkan keterangan Amir kepada penyidik kepolisian, keluhannya itu tidak mendapatkan respon dari pihak manajemen.

"Tapi tak direspon oleh manajemen.”

“Terus mekaniknya menyampaikan itu bisa diakali.”

“Ternyata ada kebocoran di selangnya," ujarnya.

Pihak manajemen pun akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

"Yah nanti kita periksa semuanya siapa saja kemungkinan jadi tersangka.”

“Sopir sudah dimintai keterangan dan statusnya tersangka," ujar Prahoro.

Menurut Prahoro, sang sopir mengatakan tak ada masalah saat memberangkatkan bus sampai ke Lembang.

"Tidak masalah pas berangkat.”

“Masalahnya ada di Lembang mau balik.”

“Kondisinya dari titik keberangkatan ke lokasi kejadian itu turunan sepanjang dua kilometer," ujar Prahoro.

===

VIDEO :

===

Buang Rokok

Lokasi kecelakaan bus pariwisata di Jalan Raya Bandung-Subang, Kampung Cicenang, Ciater, Subang, Jawa Barat, atau Tanjakan Emen, Sabtu (10/2/2018) pukul 17.00 WIB, nyatanya menyimpan sejuta misteri di dalamnya.

Salah satunya adalah kisah soal sosok Emen yang selama ini disebut-sebut menjadi awalan pembuka mitos mistis di lokasi tersebut.

Dilansir dari Tribun Jabar, mitos mistis tersebut kerap dikait-kaitkan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut.

Jika dari arah Subang disebut tanjakan Emen, dari Bandung daerah ini disebut turunan Emen.

Mitos mistis itu kemudian melahirkan tradisi.

Warga pun ada yang melintas sambil membuang rokok di sepanjang jalan turunan atau tanjakan Emen.

Tradisi itu kata seorang warga bernama Dedi (45), warga Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

"Sudah dari dulu tradisi itu mah," ujarnya.

Persis di lokasi kejadian tabrakan, Tribun Jabar sempat melihat langsung seorang perempuan dibonceng di sepeda motor yang ‎melemparkan sebatang rokok.

Setelah dibuang, bibir perempuan tersebut tampak membaca sesuatu kemudian berlalu.

Saat dicek, rokok yang dibuangnya berupa rokok putih.

Tribun Jabar pun kemudian menyusuri pinggiran lokasi kejadian.

Tampak sejumlah rokok baru bertebaran di lokasi tersebut.

Sedikitnya ada lima hingga tujuh batang rokok baru atau tidak ada bekas dibakar.

Dedi mengatakan, tradisi membuang rokok yang konon katanya untuk buang sial itu masih dilakukan hingga saat ini.

"Di sepanjang turunan saja dari Tangkuban Perahu sampai Kampung Aster.”

“Kadang kalau rokoknya masih bagus kami ambil, kalau dikumpulkan bisa dapat satu bungkus," ujar Dedi.

Tanjakan Emen
(Kolase Sriwijaya Post)

===

Editor: Ahmad Sadam Husen
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help