Suara Pemilik Toko Lr Basah: Jangan Paksa Pedagang Buka Malam

Setidaknya 85 pemilik toko di Jalan Sentot Ali Basya atau yang lebih dikenal Lorong Basah, Palembang, menolak imbauan PD Pasar

Suara Pemilik Toko Lr Basah: Jangan Paksa Pedagang Buka Malam
instagram
Seorang warga Palembang berswafoto di Jalan Sentot Ali Basya atau lebih dikenal lorong basah Palembang. 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG - Setidaknya 85 pemilik toko di Jalan Sentot Ali Basya atau yang lebih dikenal Lorong Basah, Palembang, menolak imbauan PD Pasar yang meminta agar pedagang di kawasan itu buka hingga malam dan memasang neon box nama toko masing-masing. Mereka minta tidak ada paksaan bagi mereka untuk membuka toko malam hari.

Berita Lainnya:  Wisata Malam, Lorong Basah Disulap Wisata Kuliner

Jika kebijakan itu dipaksakan, pedagang akan mengalami kerugian, karena harus membayar uang lembur karyawan. Surat Edaran PD Pasar yang ditandatangani Direktur Utama Asnawi P Ratu, sejak awal Januari 2018 lalu itu, intinya meminta pedagang atau pemilik toko di Lorong Basah untuk memasang neon box dan membuka toko hingga malam hari.

"Sulit untuk diikuti untuk buka sampai malam, dan tidak masuk akal," kata Ibrahim (65), pedagang toko bumbu. Menurutnya, banyak biaya yang akan ditanggung pedagang.

Pertama, harus mengalokasikan uang lembur karyawan, biaya pembuatan neon box, dan operasional toko. Di sisi lain, transaksi pasar saat ini sudah menurun 50 persen dari tahun-tahun sebelumnya. "Coba lihat saja, situasi pasar jelang sore sudah sepi. Apalagi dibuka malam, siapa yang mau belanja," katanya.

Hal senada juga dikatakan dua pemilik toko lainnya, seperti Subianto dan Iwan. Keduanya mendukung program Pemkot untuk membuka pasar kuliner di Lorong Basah. Namun, untuk memaksa toko buka sampai malam hari, sesuatu yang harus dikaji dan dipikirkan ulang.

Jangan diminta buka toko hingga malam, pemanfaatkan Lorong Basah sebagai pusat jajanan atau kuliner, masih harus dipikirkan secara matang. Misalnya, bagaimana soal kebersihan, sumber air bersih dan sampah. "Jangan sampai, kita buka toko, sampah dimana-mana dan toko kita kotor," kata Subianto.

Lebih ekstrim lagi, sejumlah pemilik toko mangaku, jika ada pilihan lain atau usaha lain, mereka lebih baik memilih tutup toko. "Omzet kita turun drastis. Sekarang bisa bayar sewa dan gaji karyawan sudah cukup. Kalau main bola, kami pilih bertahan," kata Iwan.

Hal senada dikemukan IC (49), salah satu pedagang yang tidak mau namanya ditulis lengkap, bahwa peraturan tersebut tidak tepat, apa lagi menyangkut jam buka toko. "Biasanya juga jam lima saya sudah menutup toko. Yang jelas saya menolak jika peraturan ini ditetapkan," ujarnya. (sin)

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved