Kematian Jumiarni Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Bukan Karena Imunisasi Tetapi Penyakit Ini

Dari hasil pemeriksaan diperoleh kesimpulan anak tersebut meninggal karena penyakit radang otak.

Kematian Jumiarni Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Bukan Karena Imunisasi Tetapi Penyakit Ini
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Palembang, dr Letizia 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pertanyaan masyarakat tentang meninggalnya siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yayasan Hikmah bernama Jumiarni beberapa waktu lalu terjawab sudah.

Dari hasil pemeriksaan diperoleh kesimpulan anak tersebut meninggal karena penyakit radang otak dan tidak ada hubungan sebab akibat dengan vaksinasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang Letizia mengaskan, tidak ada hubungan sebab akibat antara pemberian vaksin atau imunisasi dengan kondisi anak tersebut.

"Uji vaksin dari pusat itu menyatakan vaksin itu sudah memenuhi syarat," tegasnya saat menggelar konferensi pers bersama awak media di ruang Parameswara kantor Pemerintahan Kota Palembang, Selasa (16/1).

Dikatakannya, dari diagnosis pasien tersebut dinyatakan mengidap peradangan pada otak. Hal ini merupakan hasil dari perawatan dan pemeriksaan dari feses dan air liur Jumiarni tersebut.

"Itu hasil diagnosis dari data dan gejala yang dialami korban. Pada saat memberikan vaksinasi memang belum diketahui kondisi anak," ujarnya.

Saat memberikan vaksin, pihaknya sudah melakukannya sesuai SOP. Dimana vaksinasi tersebut justru tidak diberikan kepada anak-anak yang ditemui tanda-tanda sakit seperti demam dan lain sebagainya, sehingga mereka akan disusulkan vaksinasinya setelah kondisinya membaik

. "Karena dilakukan di sekolah dan secara massal, kalau terjadi keragu-raguan maka anak akan dibawa ke rumah sakit," ujarnya.

Letizia berharap, dengan adanya hasil uji yang dilakukan BPOM dan Komda KIPI, dapat menjawab yang selama ini jadi pertanyaan keluarga dan masyarakat. Karena, hasil uji sampel vaksin BPOM memenuhi syarat yang ditetapkan.

Termasuk memastikan kondisi calon yang akan diberikan vaksin, sehat dan diperbolehkan untuk melakukan vaksinasi.

"Kedepan masyarakat tidak perlu ragu lagi untuk melakukan vaksin. Karena kami selalu lakukan sesuai dengan Standar Opersional Prosedur (SOP). Dan hasil diagnosis yang dilakukan juga, berdasarkan hasil pemeriksaan dilakukan di rumah sakit selama perawatan dengan mengambil sampel seperti feses," ujarnya.(cr5)

Penulis: Siti Olisa
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help