Ombudsman : Pemerintah Sumsel Jangan Abaikan Naiknya Harga Beras

Penyebab naiknya harga beras dipasaran, karena terganggunya pasokan dari daerah penghasil beras, salah satunya dari Belitan

Ombudsman : Pemerintah Sumsel Jangan Abaikan Naiknya Harga Beras
SRIPO/WAHYU
Pegawai ombudsman RI perwakilan Sumsel melakukan sidak kenaikan beras, Kamis (11/1/2018) 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Penyebab naiknya harga beras dipasaran, karena terganggunya pasokan dari daerah penghasil beras, salah satunya dari Belitang Kab. Oku Timur.

Banyak petani yang mengalami gagal panen dikarenakan tanaman padi mereka terkena virus dan mati.

Virus menyerang padi yang berumur satu sampai dua bulan.

Penyebab pastinya belum diketahui pasti apakah dari bibit yang dibeli atau dari kualitas pasokan air, sehingga petani beras beralih menanam jagung.

Serangan virus terhadap tanaman padi ini belum mendapat perhatian dari pemerintah.

Astra Gunawan, Plt kepala perwakilan ombudsman RI Sumsel, saat ditemui Sripo, mengatakan. pemerintah harus mencari penyebab gagal panen di daerah penghasil beras seperti belitang, apakah sudah aman dari virus dan hama.

"Pemerintah dan Dinas terkait harus memeriksa secara langsung jangan mengabaikan permasalahan ini,"jelasnya.

Terkait dengan Operasi Pasar (OP) yang dilakukan serentak oleh Bulog seluruh Indonesia, Ombudsaman RI perwakilan Sumsel melakukan pengawasan terhadap empat pasar yang menjadi sasaran operasi pasar perum bulog divre Sumsel, yaitu di pasar 16 ilir, cinde, lemabang dan pasar KM 5.

Hasil pengawasan tersebut pihak ombudsman mendapatkan harga beras Rp. 8.500 ribu atau dibawah harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp 9.350 ribu.

Namun sayangnya banyak para pedagang mengeluhkan kualitas beras yang kurang bagus dan bulirnya banyak patah, sehingga beras ini tidak banyak diminati pembeli.

Bukan hanya di empat pasar itu saja, ombudsman melakukan perbandingan harga di pasar induk jakabaring.

Menemukan beras jenis IR 64 yang telah dikemas dalam karung dengan merek tertentu dijual dengan harga Rp. 12.500 hingga Rp 13.000 rupiah, sedangkan untuk beras curah dijual kisaran harga Rp. 9.800 sampai Rp 11.000 ribu.

"Kita berharap kualitas beras dipasaran sama rata dan tidak melebihi harga yang telah ditentukan,"ujarnya.

Ia pun berharap lebih agar pemerintah mengatasi kenaikan harga beras yang saat ini terjadi, agar tidak menimbulkan pandangan bahwa ini merupakan bagian dari sekenario untuk menghalalkan import beras.

Penulis: Wahyu Kurniawan
Editor: Odi Aria Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help