Kisah Nek Yanti. Hidup dari Memulung Terpaksa Lakukan Ini Setiap Hari Demi 20 Ribu Rupiah

Setiap hari ia harus mencari botol, cangkir plastik dan juga minuman kaleng untuk dapat di jual ke tempat penampungan.

Kisah Nek Yanti. Hidup dari Memulung Terpaksa Lakukan Ini Setiap Hari Demi 20 Ribu Rupiah
SRIPOKU.COM/HARIS WIDODO
TETAP BERTAHAN - Meski penghasilannya 20 ribu perhari dari memulung di TPA Sukawinatan Yanti(66) tetap semangat dalam mencari barang bekas, Minggu (31/12/2017) 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Yanti (66) seorang pemulung yang tinggal di dekat tempat pembuangan akhir (TPA) Sukawinatan.

Setiap hari ia harus mencari botol, cangkir plastik dan juga minuman kaleng untuk dapat di jual ke tempat penampungan.

Mencarinya pun bukan di tempat yang bersih dan rapi tapi di gunungan sampah dekat rumahnya sendiri, Minggu (31/12/2017)

Saat Sripo menemuinya ditempat, Ia sedang mencari botol, cangkir plastik dan kaleng minuman.

TETAP BERTAHAN - Meski penghasilannya 20 ribu perhari dari memulung di TPA Sukawinatan Yanti(66) tetap semangat dalam mencari barang bekas, Minggu (31/12/2017)
TETAP BERTAHAN - Meski penghasilannya 20 ribu perhari dari memulung di TPA Sukawinatan Yanti(66) tetap semangat dalam mencari barang bekas, Minggu (31/12/2017) (SRIPOKU.COM/HARIS WIDODO)

Hal ini harus dilakukan walaupun hasilnya tidak memuaskan, hanya Rp 20.000 / hari yang ia hasilkan dari memulung.

"Siapa lagi mau kasih mas, kalau gak begini,"ujarnya.

Wanita yang memiliki 5 orang anak dan 7 orang cucu ini tetap giat bekerja.

Hal itu harus dia lakukan lantaran anaknya juga dalam keadaan susah juga.

Pergi setiap hari ia ke TPA Sukawinatan mulai dari terbitnya matahari sampai waktu magrib tiba.

Ia tidak sendiri, suaminyapun ikut mencari juga ditempat yang sama.

TETAP BERTAHAN - Meski penghasilannya 20 ribu perhari dari memulung di TPA Sukawinatan Yanti(66) tetap semangat dalam mencari barang bekas, Minggu (31/12/2017)
TETAP BERTAHAN - Meski penghasilannya 20 ribu perhari dari memulung di TPA Sukawinatan Yanti(66) tetap semangat dalam mencari barang bekas, Minggu (31/12/2017) (SRIPOKU.COM/HARIS WIDODO)

Wanita paruh baya ini sudah puluhan tahun bekerja sebagai pemulung.

Namun ia tak pernah mengeluh kepada keadaannya.

Ia tak pernah meminta banyak tuntutan dari siapapun, hanya saja ia ingin kelak anak cucunya tidak bernasib sama sepertinya.

Penulis: Haris Widodo
Editor: Candra Okta Della
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help