SriwijayaPost/

Tanpa Persetujuan Nasabah. Asuransi Curang Main "Kuras"

Berbagai cara dilakukan perusahaan asuransi untuk menggaet nasabah baru. Selain mengandalakan pemasaran face to face,

Tanpa Persetujuan Nasabah. Asuransi Curang Main
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Berbagai cara dilakukan perusahaan asuransi untuk menggaet nasabah baru. Selain mengandalakan pemasaran face to face, produk ditawarkan melalui medsos. Namun sayangnya, demi mengejar target, cara curang dilakukan. Termasuk diantaranya, auto debit tabungan tanpa persetujuan nasabah.

Berita Lainnya:  Ikuti Perkembangan Zaman, Asuransi Astra Siap Usung Konsep Go Digital

Halimah, nasabah sebuah bank di Sumsel, mengaku kaget, karena uang di tabungannya tiba-tiba dipotong secara otomatis (autodebit). Uang itu katanya untuk bayar premi asuransi, anak perusahaan bank bersangkutan. Padahal dia merasa tak pernah memberikan tandatangan persetujuan untuk ikut asuransi tersebut.

Peristiwa yang pernah dialami Halimah, juga menimpa Imron, warga Jl Kol Barlian Palembang. Ia mengaku berkali-kali dihubungi seorang telemarketing. Awalnya, wanita di telepon itu mengaku dari bank dimana dia memang punya rekening tabungan, bermaksud menjelaskan program yang katanya hanya spesial untuk nasabah.

Setelah panjang lebar menjelaskan tentang program asuransi kesehatan, akhirnya si penelepon itu meminta izin agar mereka bisa autodebit tabungan untuk premi asuransi. "Tapi saat itu saya langsung bilang, jangan asal potong. Karena saya belum bersedia ikut program yang kamu tawarkan," cerita Imron. Mendengar itu, si penelepon mengakhiri percakapan, seraya mengaku sayang jika kita tak ikut program itu.

Hal yang sama pernah dialami Tria, warga Jl Pipa Reja Palembang, salah seorang nasabah bank plat merah yang dijumpai Sripo. Bahkan dia mengaku sudah belasan kali dihubungi pihak yang menawarkan program asuransi, dengan meminta bayar premi autodebit dari tabungan.

Dalam memasarkan produk jasa keuangan dan asuransi, banyak cara yang biasa dilakukan. Selain face to face atau bertemu langsung dan menggunakan media sosial, cara lama pemasaran dengan menelpon langsung calon nasabah atau membroadcast Short Massage Service (SMS) yang berisikan tentang penawaran promo dari produk perusahaan, hingga kini masih sering dilakukan.

Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengaku telah memiliki pengaturan terkait perlindungan konsumen dari pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) nakal. Dimana, dalam hal penyampaian informasi melalui sarana komunikasi pribadi seperti telepon SMS harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Dia ntaranya, komunikasi hanya dapat dilakukan pada hari Senin-Sabtu diluar libur nasional dari pukul 08.00 hingga 18.00, kecuali atas persetujuan atau permintaan calon konsumen atau konsumen.

"Untuk telemarketing lebih ditujukan pada produk-produk asuransi yang simple. Sebelum melakukan pemasaran, telemarketing scriptnya terlebih dahulu harus dilaporkan kepada OJK untuk direview dan mendapat surat pencatatan untuk persetujuan. Tanpa persetujuan konsumen tak bisa langsung autodebit, karena ada prosedur selanjutnya," ujar Kepala Bagian Kemitraan & Pengembangan Ekonomi dan keuangan Daerah, Lina ketika dikonfirmasi, Selasa (5/12).

Selain itu, mereka juga wajib untuk menginformasikan nama PUJK dan menjelaskan maksud dan tujuan sebelum menawarkan produk. "Jadi tidak bisa sembarangan," tambah Lina.

Halaman
123
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help