SriwijayaPost/

Polair Polda Sumsel Amankan 135 ton BBM Solar dan Premium Bersubsidi dari Pertamina

Nahkoda Suherman pun langsung diamankan petugas bersama dua orang ABK (anak buah kapal), berikut muatan BBM ilegal yang diangkut.

Polair  Polda Sumsel Amankan 135 ton  BBM  Solar dan Premium Bersubsidi dari Pertamina
IST
Direktur Polair Polda Sumsel saat intogerasi Suherman (akai masker) nahkoda kaal yang membawa BBM ilgal, ketika rilis perkara di Dermaga Intan Sengkunyit Kecamatan Kalidoni Palembang, Rabu (6/12/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kapal tugboat yang dinahkodai Suherman alias Bokcik, tak mampu lolos dari kejaran KP Tekukur 5010 yang dinahkodai Kapten kapal Kompol Jimmy HM Pakpahan dari Dit Polair Polda Sumsel.

Ketika itu Suherman sebagai nahkoda kapal tugboat Titian Abadi sedang menarik kapal tongkang Aneka Usaha dengan muatan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak 135 ton, di perairan Sungai Musi Pulau Salah Nama Kabuaten Banyuasin.

KP Tekukur 5010 yang sedang patroli untuk mengamankan wilayan peairan Sumsel pasca berlayar dari Batam, mempergoki kapal tugboat yang dinahkodai Suherman.

Saat akan dilakukan pemeriksaan, ternyata muatan BBM yang diangkut tidak dilengkapi dokumen alias BBM ilegal.

Nahkoda Suherman pun langsung diamankan petugas bersama dua orang ABK (anak buah kapal), berikut muatan BBM yang diangkut.

"Nahkoda kapal tidak bisa menunjukan surat izin angkut, sehingga BBM yang diangkut terpaksa diamankan. BBM yang tidak dilengkapi izin itu rinciannya 60 ton solar bersubsidi dan 75 ton premium non subsidi," ujar Kombes Pol Robinson DP Siregar, Direktur Polair Polda Sumsel, ketika rilis perkara di Dermaga Intan Sengkunyit Kecamatan Kalidoni Palembang, Rabu (6/12/2017).

Robinson mengatakan, pengamanan BBM yang tidak memiliki surat izin ini hasil patroli KP Tekukur 5010 pada Sabtu (2/12/2017) di perairan Banyuasin.

Namun baru ditetapkan sebagai kasus pelanggaran sehari setelah pengamanan, karena nahkoda kapal memang tidak bisa menunjukan surat dokumen yang lengkap dari Kementerian ESDM cq Dirjen Migas.

"BBM memang dari Pertamina, hanya saja tidak memiliki dokumen yang lengkap dan jelas ini pelanggaran. BBM rencananya diperuntukan untuk nelayan di Sungsang. Pengakuan nahkodanya, mengangkut BBM menuju Sungsang sudah dilakukannya selama 10 tahun. Namun baru kali ini tidak bisa melengkapi surat izin angkutnya," jelas Robinson.

Sementara itu Suherman mengakui, tidak bisa melengkai surat dokumen BBM yang diangkutnya, lantaran terkendala istrinya yang sakit. Sehingga surat-suratnya tidak diurus.

"Minyak saya ambil dari Dipo Pertamina di Keramasan dan saya sebagai nahkoda kapal angkut minyak ini sudah 10 tahun. Memang baru kali ini suratnya tidak lengkap, karena saya tidak sempat mengurusnya karena istri sakit," kilah Suherman.

Petugas penyidik Dit Polair Polda Sumsel, menjerat nahkoda Suherman dengan pasal 53 huruf B UU RI nomor 22 tahun 2001 tentang migas. Selain itu juga disangkakan dengan pasal 294 ayat 1, pasal 302 ayat 1, dan pasal 303 ayat 1 UU RI nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran.

"Nahkoda dan ABK tidak dilakukan penahanan, karena ancaman pidananya di bawah lima tahun. Namun pastinya kasus ini terus kita kembangkan. Barang bukti BBM yang diangkut sudah kita amankan," tegas Robinson.

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help