SriwijayaPost/

Samakan Wartawan dengan Intel, Kapolresta Palembang Berharap Wartawan tak Lakukan Ini

Malah sering jika kejadian di luar, wartawan lebih dulu monitor. Nah di sinilah Polri dan wartawan sebagai mitra

Samakan Wartawan dengan Intel, Kapolresta Palembang Berharap Wartawan tak Lakukan Ini
SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA
Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono didampingi Kabag Ops, Kompol Maruly Pardede, beserta para Kasat, tatap muka dengan wartawan yang biasa bertugas di Polresta Palembang, Kamis (23/11/2017). 

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Andi Wijaya

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono, didampingi Kabag Ops Kompol Maruly Pardede, beserta para kasat, menggelar tatap muka dengan para wartawan yang biasa bertugas di Polresta Palembang, di Aula Mapolresta Palembang, Kamis (23/11/2017).

Tatap muka kali membahas soal berita-berita yang setiap hari diliput wartawan media cetak dan elektronik di lingkup Polresta Palembang beserta polsek jajaran.

Wahyu mengatakan, soal pemberitaan seperti menyangkut nama anak, perempuan dan masih dilakukannya pengembangan, diharapkan untuk tidak menuliskan nama, alamat, dan nama DPO (Daftar Pencarian Orang)
sesuai namanya.

"Tentu menyangkut nama anak dan alamat, baik itu korban asusila dan korban KDRT, diharap namanya disamarkan karena kita melindungi mereka. Mereka juga berhak untuk diliput dan tidak diliput. Namun tetap saja kita harus melindunginya," ujar Wahyu.

Selain itu, untuk kasus yang masih dilakukan penyelidikan dan pengembangan, terkait pelaku banyak, lanjut Wahyu, untuk namanya diminta juga disamarkan.

"Ini ditakutkan pelaku lainnya kabur. Sedangkan kasihan dengan petugas yang terus melakukan pengejaran kepada pelaku-pelaku lain yang belum tertangkap," tegasnya.

Wahyu mengatakan, Polri dan awak media adalah mitra. Dimana satu sama lain saling berkaitan dan memerlukan.

"Wartawan juga dianggap sama seperti anggota intel. Malah sering jika kejadian di luar, wartawan lebih dulu monitor. Nah di sinilah Polri dan wartawan sebagai mitra. Saling membutuhkan memberikan Informasi," katanya.

Wahyu berharap dengan ada humas yang baru, nanti corongnya menjadi satu (satu pintu).

"Humaslah yang lebih banyak memberikan informasi dan melakukan ekspose kepada media yang standby di Polresta Palembang. Namun tidak menutup kemungkinan saya pun diminta untuk wawancara, jika ada penangkapan kasus besar," ungkapnya.

Ditambahkannya, sebaliknya wartawan memiliki kode etik, untuk nama korban dan lain-lainnya.

"Tentu semua tahu sesuai dengan kode etik yang ada. Jika korbannya masih di bawah umur namanya disamarkan, korban asusila dan kasus yang masih dilakukan penyelidikan," harap Wahyu.

Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help