SriwijayaPost/

Petani Karet Banting Setir, Sebagian Pohon Karet Ditebang Mereka Beralih ke Tanaman Buah Ini

Saat ini sajasudah banyak kebun karet warga ditebang. Dikarenakan harga karet yang masih rendah dan tidak stabil.

Petani Karet Banting Setir, Sebagian Pohon Karet Ditebang Mereka Beralih ke Tanaman Buah Ini
SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Ditengah kondisi harga karet yang kian tak stabil, membuat petani di Desa Tembedak I Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir (OI) kembali bercocok tanam buah nanas, seperti yang dilakoni oleh Wahidi 

SRIPOKU.COM, INDERALAYA - Berkebun buah nanas di daerah Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan Ilir (OI), khususnya di Desa Tebedak I, sejak beberapa tahun terakhir sempat terlupakan.

Mengingat kala itu harganya tidak begitu menggiurkan akibat kalah bersaing dengan harga getah karet yang mencapai nilai tertinggi diangka Rp 20.000.

Namun saat ini, sebagian besar warga masyarakat di Desa Payaraman kembali mulai melirik lagi berkebun buah nanas tersebut.

Seperti yang dilakoni pria bernama Wahidi (40), warga Dusun II Desa Tebedak I ini.

Menurut Wahidi, ia terpaksa kembali bercocok tanam buah nanas lantaran harga nanas mulai menunjukkan nilai positif dan permintaan akan buah nanas juga semakin meningkat.

“Dulu tuh agak malas berkebun nanas, dikarenakan harganya di pasaran anjlok besar-besaran. Saat ini harganya lumayan, yakni kisaran Rp 2 - 3 ribu perbuah nanas," katanya, Selasa (14/11).

Ia menyatakan, dalam setahun bisa panen dua kali. Lanjutnya, tentu saja, satu hektar lahan yang bila diperuntukkan cocok tanam buah nanas. Hasilnya cukup menggiurkan.

"Biasanya, buah nanas yang siap panen dijual ke pasar-pasar yang ada di Palembang dengan harga jual yang cukup bervariasi tergantung besar kecilnya nanas tersebut, dari harga Rp 5 ribu- Rp 6 ribu perbuah," ujarnya seraya menyebut permintaan buah nanas meningkat menjelang pelaksanaan hari raya Idul Fitri.

Ia menyebutkan, anjloknya harga karet sejak tiga tahun terakhir ini, membuat warga masyarakat yang sebagian besar mayoritas menggantungkan hidup dari bertani karet terpaksa harus banting setir untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kalau begitu tidak makan. Saat ini saja, sudah banyak kebun karet warga ditebang. Dikarenakan harga karet yang juga masih rendah, otomatis membuat masyarakat terus berinovasi. Salah satunya dengan mulai berkebun nanas lagi," ujar Wahidi seraya menyebut, ditengah kondisi harga getah karet yang masih rendah.

"Jadi pintar-pintar kita mensiasatinya, salah satunya berkebun nanas ini. Kita berharap selain nanas harganya tetap stabil, juga harga karet pulih seperti sedia kala,” harap pria yang menggantungkan hidupnya dari bertani ini.

Penulis: Beri Supriyadi
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help