SriwijayaPost/

Hampir Seluruh Tangan Peserta Musi River Camp Gemapala Wigwam FH Unsri 2017, Melepuh

Sekalipun mereka mengenakan sarung tangan. "Berat...," kata Junaidi (42), skipper atau kapten tim Tatang Putera.

Hampir Seluruh Tangan Peserta Musi River Camp Gemapala Wigwam FH Unsri 2017, Melepuh
Dok Wigwam FH Unsri
Salah satu peserta Musi River Camp Gemapala Wigwam 2017 saat tiba di depan Dermaga Benteng Kuto Besak Palembang, Minggu (12/11/2017). 

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Sutrisman Dinah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Tiga hari mendayung perahu karet mengarungi Sungai Musi sejauh 60 kilometer, butuh tenaga dan tekad kuat untuk menyelesaikan misi ini.

Enam perahu masing-empat pendayung, hari Minggu (12/11) sore, menyentuh titik terakhir di Dermaga Wisata Benteng Kuto Besak, Palembang (Sumatera Selatan).

Para pendayung sebagian besar adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Palembang.

Hanya empat anggota tim Tatang Putera yang merupakan pendayung tradisional dari Palembang dan sekaligus mencatatkan waktu tercepat menyentuh garis finis.

Inilah lomba yang masuk kategori ekstrem yang digelar kelompok pencinta alam Gemapala Wigwam Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, yang dikemas dalam acara Musi River Camp 2017.

Dikategorikan ekstrem, bukan hanya dari segi jarak tempuh tapi dari format kegiatan river camp, harus bermalam di tenda di tepi sungai, menggunakan veltbed standar militer pinjaman dari Kodam II Sriwijaya.

Peserta harus menyiapkan makan dan minum sendiri.

Panitia hanya menyuplai air minum dalam kemasan 1,5 liter menjelang keberangkatan.

Pendayung bukan hanya dihadapkan tantangan matahari dan pantulan cahaya dari permukaan sungai, tetapi juga bertarung melawan arus pasang sungai dan hempasan angin.

Halaman
123
Penulis: Sutrisman
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help