Pilih Berinvestasi: Mudah tapi Bodong, Berproses Namun Untung

“Uang pensiunan saya ditambah dengan tabungan dengan jumlah sekitar Rp 200 juta ludas tanpa bisa berbuat apa-apa,”

Pilih Berinvestasi: Mudah tapi Bodong, Berproses Namun Untung
Net

SRIPOKU.COM - Kurnia  (62)  pensiunan PNS di kota Palembang sempat merenung sebentar lalu menghela nafas panjang. Ingatannya terkenang pada kejadian sekitar 2 tahun lalu. Namun masih sangat membekas bahkan diakuinya tak pernah bisa dilupakan.

“Uang pensiunan saya ditambah dengan tabungan dengan jumlah sekitar Rp 200 juta ludas tanpa bisa berbuat apa-apa,” kata Kur saat menjawab pertanyaan apa pasal uangnya ludas.

Tergiur investasi dengan propaganda keuntungan yang besar. Itulah kalimat yang keluar dari pria ini. Menurutnya, dirinya sebetulnya tak pernah ikut-ikutan berbisnis investasi namun karena ajakan saudara yang sudah terlebih dahulu mengikuti bisnis investasi itu maka Kur pun ikut juga. Keyakinan besar diakui Kur karena investasi yang ditawarkan kepada dirinya sudah dipromosikan di berbagai media massa cetak di kota Palembang. Selain itu, ada kantor cabangnya yang baru didirikan juga di kota Palembang. Berbekal inilah Kur mengaku yakin bahwa investasinya tidak akan dibohongi.

“Tak perlu lagi saya sebut namanya namun waktu itu, cukup terkenal di kota Palembang ini. Awalnya saya hanya menanamkan modal sekitar Rp 25 juta namun karena dalam waktu yang sangat singkat uang saya itu langsung bertambah dalam jumlah yang lumayan maka saya jadi tergiur untuk menambah dan terus menambah. Awalnya lancar saja sih tapi setelah mendekati setahun mulai terasa ada yang tidak beres. Ya, ternyata betul juga. Saya sudah perjuangkan bersama para nasabah lain yang jadi korban juga tapi hasilnya tak ada. Bahkan media massa yang pernah menerbitkan iklan investasi tersebut sempat kami datangi. Tapi karena sifatnya media massa itu hanya sebagai media yang dibayar untuk mengiklankan produknya maka kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Jadi inilah yang saya wanti-wanti sekarang kepada siapa pun, anak, cucu, keluarga atau kenalan saya agar berhati-hatilah kalau ada yang mengajak berinvestasi apalagi bila lembaganya tak jelas juntrungannya,” kata Kur yang secara jujur mengakui bahwa ketika awal berbisnis dirinya tak begitu mempermasalahkan legalitas lembaga yang mengajaknya berbisnis.

Ros (32) seorang abdi negara di Kejaksaan yang juga berdomisili di kota Palembang juga tersenyum kecut mengenang apa yang dialaminya juga sekitar 2 tahun lalu. Investasi yang ditanamkan dalam bentuk modal segar diakui Ros sudah dikeluarkannya mencapai sekitar Rp 400 juta. Kenapa bisa sebesar itu?

“Saya diajak oleh sesama kolega juga. Kebetulan ada lumayan banyak rekan seprofesi yang ikut juga. Kami percaya karena investasi ini melibatkan tokoh masyarakatdan tokoh agama yang namanya cukup populer di media massa. Menanamkan modal dengan investasi berjangka. Disebutkan bahwa dana kami itu untuk diinvestasikan dalam bentuk kebun sawit dan peternakan sapi. Bagi untungnya lumayan. Itu yang membuat tergiur. Pada bulan-bulan pertama memang terbukti. Makanya saya tingkatkan terus jumlah nominal uang saya untuk diinvestasikan. Tapi memang secara riil saya tidak pernah melihat di mana kantor dan lokasi lembaga yang menjadi pusat bisnis investasi kami ini. Kabarnya saja di Jakarta tapi setelah tahu bahwa bodong maka itulah risikonya. Sekarang kapok sih sebetulnya, mau ikut lagi tapi sebelumnya memang benar-benar tahu investasi itu sehat dan resmi diakui pemerintah,” kata Ros.

Weria (30) warga yang berdomisili di Inderalaya Kabupaten OI Sumatera Selatan merupakan satu dari tiga narasumber yang berhasil dikorek keterangannya oleh penulis. Weria diajak berbisnis dengan menginvestasikan uang Rp 40 juta dengan keuntungan per 10 hari kemudian dengan  akumulasi sekitar 22 persen per 10 hari.

“Investasi ini disebutkan berjangka karena modal kami itu akan ditanamkan pada bisnis yang sangat cepat seperti pembelian tiket pesawat, pulsa ponsel,  serta bisnis perjalanan religi. Kebetulan yang mengajak saya berbisnis ini adalah anak seorang ustad terkenal di kota Palembang. Mantan pengurus organisasi yang cukup terkenal. Maka saya tergiur,” kata Weria.

Menurut ibu tiga anak ini, karena per 10 hari dirinya sudah mendapatkan apa yang dijanjikan maka dengan cepat dia pun mengajak orang dekatnya seperti saudara kandung, suami, mama, dan beberapa teman kerjanya. Weria pun mengaku sampai mengadaikan SK PNS-nya untuk meminjam uang yang akan ditanamkan dalam investasi ini. Alhasil modal yang tertanam sekitar Ro 280 juta untuk dirinya sendiri. Untuk mama dan keluarga yang diajaknya Weria tak mau menyebutkan karena sudah tak mengingatnya lagi.

“Kalau ditotal dari keluarga besar kami saya nilainya lumayan, lebih dari Rp1 miliar. Kebetulan mama saya berbisnis jual beli berlian maka modalnya lumayan banyak. Sesuai dengan nama investasi itu “Bebas Bermimpi”, akhirnya memang saya hanya dapat bermimpi saja. Semua tinggal cerita yang tak patut diulang,” kata Weria tersenyum kecut.

Halaman
12
Penulis: Saftarina
Editor: Darwin Sepriansyah
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help