SriwijayaPost/
Home »

Opini

Buya Menjawab

Adakah Malam Takziyah itu? Ini Penjelasannya

Perdebatan tentang masalah yang ananda perbincangkan di kampus tersebut, tidak akan berhenti sampai hari kiamat, tetap ada dua versi tersebut.

Adakah Malam Takziyah itu? Ini Penjelasannya
twitter.com
Ilustrasi - Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. 

SRIPOKU.COM - Assalamualaikum.Wr.Wb.
BUYA, sesama kami bertukar pikiran di kampus tentang ada dua versi masyarakat menghadapi peristiwa kematian salah seorang anggota keluarganya. Ada yang pada malam ta'ziyah melaksanakan pembacaan surah yaasiin dan tahlilan, sebagian yang lain hanya melaksanakan ta'ziyah dengan ceramah saja. Kami berdebat yang tidak ada kesimpulan. Bagaimana Buya, mohon penjelasan.
0812789xxxx

Berita Lainnya:  Mimbar Jumat

Jawab:
Wassalamualaikum.Wr.Wb.
ANANDA perdebatan tentang masalah yang ananda perbincangkan di kampus tersebut, tidak akan berhenti sampai hari kiamat, tetap ada dua versi tersebut. Namun bagi yang ditimpa musibah kematian salah seorang dari anggota keluarganya yang dicintai, dalam kenyataannya diantara mereka yang tadinya berpendirian tidak sepakat dengan pembacaan surah Yaasiin dan Tahlil, ketika dalam suasana bersedih turut larut juga dan berubah pendirian lalu berupaya juga melakukan sesuatu untuk menambah kebaikan almarhum yang disayanginya.

Sudah menjadi tradisi pula dikalangan ummat Islam, mengadakan tahlilan dan menyediakan jamuan makanan dalam upacara "tujuh hari" apakah tidak menyimpang dari tuntunan agama Islam? Asal usul "tujuh hari" tersebut adalah mengikuti amal yang dicontohkan sahabat Nabi Muhammad saw.

Imam Ahmad bin Hambal ra. menyatakan dalam kitab Al-Zuhd, yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi yang artinya: "Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, "Al-Asyja'i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, "Imam Thawus berkata, "Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para sahabat mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu" (Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal, 178).

Dalam permasalahan tersebut, Imam Al-Suyuthi menjelaskan yang artinya, "Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriyah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad saw. sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Rasulullah saw.) "(Al-Hawi li Al-Fatawi, Juz II, hal. 194)

Sudah lazim pula dikalangan kaum muslimin di Indonesia, memotong hewan kurban atas nama orangtua mereka yang sudah mati, ini juga bermuara kepada hadits shahih yang diriwayatkan Tirmizi bahwa Khalifah Ali bin Abu Thalib ra. jika berkurban, beliau menyembelih dua ekor domba, satu beliau niatkan untuk Nabi Muhammad saw. dan yang satunya untuk dirinya sendiri. Ketika ditanya tentang perbuatannya ini, beliau menjawab yang artinya: "Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk melakukannya, maka aku tidak akan pernah meninggalkannya". (HR. Tirmizi).

Dalam sunan Abu Dawud, dalam hal yang sama menceritakan jawaban Khalifah Ali bin Abu Thalib adalah, "Sesungguhnya Rasulullah saw. telah berwasiat kepadaku untuk menyembelih kurban atas namanya, dan sekarang aku sedang berkurban atas namanya". (HR. Abu Dawud).

Sedekah untuk orangtua atau keluarga yang sudah mati bukan saja dalam bentuk, makanan, materi, tapi juga bisa dalam bentuk ayat-ayat suci Al-Quran, tahlil, tasbih, dan lain-lain sesuai petunjuk Rasulullah saw.;

Artinya; "Dari Abu Dzarr bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, dimana mereka shalat sebagaimana kami shalat,mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka". Rasulullah saw. bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan! Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh orang berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan munkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan istrinya juga termasuk sedekah".

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help