SriwijayaPost/

Jika Ini Dilakukan Mantan Gubernur Sumsel, Banyak Rumah Terekskusi di Jakabaring

"Jika yang kosong ini nanti habis, dan tanah kita belum cukupi 55 hektar, terpaksa kita eksekusi lshn yang ada bangunannya."

Jika Ini Dilakukan Mantan Gubernur Sumsel, Banyak Rumah Terekskusi di Jakabaring
SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA
Mantan Gubernur Sumsel H Ramli Hasan Basri 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Mantan gubernur Sumsel, Ramli Hasan Basri, ayah dari Ahmad Aman Astra, ketika ditemui Selasa (12/9/2017) mengatakan, eksekusi lahan ini dimulai dari pihak yang kalah (PT Amien Mulya) menggugat pihaknya (Ahmad Aman Astra-red).

Dengan keinginan membatalkan perjanjian, mengembalikan modal kita. "Dia mengugat putra saya, gugat untuk mengembalikan uang dan saham kepada Aman (putra saya-red), lalu tidak ikut bagi hasil, nah inilah awalnya," katanya.

Lanjutnya, pihaknya pun melawan dan tidak terima, lalu oleh pengadilan diputuskan pihaknya pun menang. Tak terima menang, pihak PT Amien Mulya mengajukan banding.

" Namun setelah banding mereka kalah lagi, dan mengajukan kasasi. Waktu dia kasasi, kita juga kasasi. Kemudian pihaknya tidak puas, kembali PK (peninjauan kembali), tetapi pihak Amien Mulya kalah lagi," bebernya.

Berarti harusnya tahun 2015, dilaksanakan pada tahun 2015. " kalau dihitung sudah 7 kali perkara. Nah untuk tanah yang disengketakan itu keseluruahan ada 184 Hektar, dari 184 hektar itu punya putra saya, ada
saham 30 persen dengan luas tanah 55 hektar, sisanya punya dia (PT Amien Mulya)," bebernya.

Ditanya mengenai apakah tanah kosong saja yang akan di eksekusi, sambungnya, karena oleh Amien secara tidak sah sudah dijual, oleh itu banyak rumah-rumah ini.

"jelas pihak saya mencari tanah yang kosong dulu. Oleh itu yang dieksekusi sekarang yang kosong dahulu.  Jika yang kosong ini nanti habis, dan tanah kita belum cukupi 55 hektar, terpaksa kita eksekusi bangunan yang ada rumahnya. Namun jika sudah cukup tidaklah dan tidak akan diganggu. Ini merupakan hak kami," tegasnya.

Ramli Hasan Basri juga menuturkan, sudah lama sekali sebelum eksekusi ini terjadi, awalnya pihaknya sudah mengajak untuk berunding, namun pihak Amien malah mengugat-gugat terus, hngga akhirnya begini.

" Amien jual tahan yang belum haknya (belum dibagi-red). Sudah kalah, dia tetap jual kepada orang yang mau beli. Kasihan pada warga yang pembeli. Tuntut Amien, pulangkan uang dan ganti tanah," katanya.

Ia juga berharap, Amien yang sudah jelas-jelas salah, barang belum haknya, sudah dijualnya. Bahkan menggugat ke pengadilan minta dibatalkan putusan.

" Harus jadi warga negara yang baiklah, tunduk hukum. Dan pada warga pembeli emang menurut saya, tuntut Amien sekarang, jangan nunggu dieksekusi nanti," ungkapnya.

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help