SriwijayaPost/

Berlaku Kasar Terhadap Ibu Mertua, Menantu ini Tewas Disambar Petir.

Seberkas petir bergemuruh menyambar atap rumahnya, sampai-sampai debu pada balok penyangga atap rumah pun berceceran jatuh ke bawah.

Berlaku Kasar Terhadap Ibu Mertua, Menantu ini Tewas Disambar Petir.
ilustrasi 

SRIPOKU.COM -  Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada musim panas di Kota Nanyang, Provinsi Henan, Tiongkok. Seorang menantu yang tewas di sambar petir karena perlakuanya terhadap ibu mertua.

Ada satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan anak, menantu, dan dua cucu laki-laki dan perempuan. Di usianya yang sudah senja, berusia lebih dari 70 tahun, ibu ini menderita kebutaan.

Ibu yang buta ini punya cucu laki-laki berusia sekitar 8 atau 9 tahun, dan cucu perempuan usia puluhan tahun. Ibu ini tinggal di sebuah pondok ilalang di sebelah timur, sedangkan anak dan menantunya beserta cucu-cucunya tinggal di pondok sebelah barat.

Anak lelakinya yang sangat berbakti bekerja di tempat yang jauh di sebuah perusahaan kehutanan, dan lebih dari satu bulan baru bisa sekali pulang ke rumah.

Sementara semua urusan rumah tangga sehari-hari dikerjakan oleh menantunya, dan selama itu tidak pernah terdengar suara ribut-ribut di rumah.

Saat pulang, putranya selalu menanyakan tentang kondisi ibunya, karena tidak mau anaknya cemas, maka sang ibu selalu bilang sehat-sehat saja, bahkan memuji-muji betapa baik dan berbaktinya istrinya itu.

Mendengar itu, putranya pun senang dan lega. Lama kelamaan, kabar itu pun tersebar luas, para tetangga sekitar selalu bercerita kalau si nenek mendapatkan seorang menantu perempuan yang baik.

ilustrasi
ilustrasi ()

Padahal, menantu perempuannya itu bukan saja kerap mengutuk mertuanya kenapa tidak segera mati saja, tapi juga acapkali memberi mertuanya itu makan makanan sisa, bahkan kerap memberi minum air bekas cucian peralatan dapur.

Itu masih tidak seberapa, kadang-kadang saat mertuanya haus dan minta minum : “Tolong suruh anak-anak bawakan saya air minum.

” Saat itu, kebetulan menantunya sedang mencuci kaki, lalu berkata pada anaknya : “Kamu ke dapur dan bawa ke ibu mangkuk nenekmu itu.” Kemudian, menantunya menuang air bekas cuci kakinya itu ke mangkuk, lalu menyuruh anaknya membawa air minum itu ke neneknya.

Halaman
123
Penulis: Budi Darmawan
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help