SriwijayaPost/

Petani Karet di OKU Mulai Gembira Karena Harga Karet Saat Ini Segini

Harga ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20 ribu/kg.

Petani Karet di OKU Mulai Gembira Karena Harga Karet Saat Ini Segini
SRIPOKU.COM/LENI JUWITA
Suasana petani sedang menimbang karet di Kecamatan Semdiangaji Kabupaten Ogan Komering Ulu. 

SRIPOKU.COM, BATURAJA-- Sehabis Hari Raya Idul Adha 1438 H harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu bergerak naik, meskipun belum terlalu signifikan namun kenaikan ini membuat petani gembira.

Seperti dituturkan Usni (60) kepada SRIPO Snein (11/9) , harga getah karet yang ditimbang dua mingguan sekarang dihargai Rp 9300/kg Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan sebelum lebaran yang masih Rp 8.400/kg.

“Alhamdulillah, walaupun naik dikit ini merupakan pertanda baik,” kata ibu dua anak ini seraya menambahkan bagi petani karet sekecil apapun kenaikan harga tetap membuat petani bergembira.

Apalagi saat ini kebutuhan semakin banyak harga –harga naik, “Garam saja dulunya Rp 1000 sebungkus kini sudah menjadi Rp 6000/bungkus .

Harga ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20 ribu/kg.

Namun setidaknya harapan petani sudah mulai tumbuh. Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Bagi petani, satu-satunya harapan adalah naiknnya harga karet, petani menilai wajar apabila pemerintah ikut memperhatikan harga getah karet agar petani juga ikut sejahtra.

Sementara itu berdasarkan catatan Sripo, tanaman karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten OKU , luas areal perkebunan karet alam milik rakyat yang terdata saja mencapai 71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak. Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata baru 918,09 ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Disisi lain, informasi dilapangan menyebutkan perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk Sebimbing Sekundang ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Namun karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri karena banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.

Sebaliknya untuk komoditas sawit memang masih bergantung ke perusahan perkebunan, artinya petani tidak bisa menjual sesuka hati.

Penulis: Leni Juwita
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help