SriwijayaPost/

Perkosa Putri Sendiri

Angka Biadab 646 dan 12.000 untuk Pemerkosa Putri Sendiri, Kok Bisa?

Kalau dikuasaki nafsu, resiko pun tidak terkalahkan dengan pikiran dan nalar sehat. Itulah yang berangkali yang merasuk pikiran seorang pria

Angka Biadab 646 dan 12.000 untuk Pemerkosa Putri Sendiri, Kok Bisa?
Kompas.com
Seorang ayah di Malaysia digiring ke pengadilan khusus untuk kejahatan seksual terhadap anak karena diduga melakukan pelecehan terhadap putrinya. Dia terancam dipenjara selama 12.000 tahun. (Foto: Ilustrasi) 

Angka Biadab 646 dan 12.000 untuk Pemerkosa Putri Sendiri, Kok Bisa?

SRIPOKU.COM, KUALA LUMPUR --Kalau dikuasaki nafsu, resiko pun tidak terkalahkan dengan pikiran dan nalar sehat.

Itulah yang berangkali yang merasuk pikiran seorang pria Malaysia yang terancama hukuman 12.000 tahun di penjara karena diduga melakukan pelecehan seksual 646 kali terhadap putrinya sendiri, bisa disebut angka biadab.

Tidak bisa terbayangkan 646 kali memperkosa anak dan darah daging sendiri sehingga harus menanggung resiko ganjaran hukum dari pengadilan 12.000 tahun.

Sebab, kalau dilihat dari rata-rata umur manusia yang tertinggi hanya 150 tahun. 

Mungkinkan kalau putusan pengadilan menetapkan hukuman seberat itu bisa terlaksana?

Logika sehat, pasti tidak akan penuh dilajani si pelaku, namun setidaknya sebagai pelajaran  bagi pria pria lainnya agar tidak melakukan hal yangh sama. 

Kejahatan seksual itu yang diduga dilakukan selama enam bulan saat remaja tersebut tinggal bersama predator yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.

Harian The Independent, Rabu (10/8/2017), melaporkan, sang ayah bakal dijebloskan di penjara selama 12.000 tahun jika terbukti melakukan 646 kali dugaan pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap anak perempuannya yang masih remaja itu.

Pejabat pengadilan di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia, memberlukan waktu dua hari penuh untuk membacakan semua 646 tuduhan terhadap pria berusia 36 tahun, yang telah bercerai dari istrinya.

Halaman
123
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help