SriwijayaPost/

Guru Sejarah di Sumsel Harus Ubah Mindset Mengajar Mata Pelajaran Sejarah

Guru sejarah mengajar hanya sebatas mengungkap kapan dan dimana terjadi suatu peristiwa saja, tapi hampir tak pernah mengungkapkan ide-ide

Guru Sejarah di Sumsel Harus Ubah Mindset Mengajar Mata Pelajaran Sejarah
SRIPOKU.COM/YANDI TRIANSYAH
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr Said Hasan MA saat memberikan materi pada Workshop guru sejarah tingkat SMA MA sederajat di SMA Negeri 3 Palembang Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5 Palembang., Kamis (27/7/2017). 

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Yanti Triansyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr Said Hasan MA mengatakan, guru sejarah di Sumsel harus mulai mengubah mindset mengajar mata pelajaran sejarah kepada peserta didik.

Tim ketua penyusun Kurikulum K13 ini meminta guru tak lagi menyampaikan materi sejarah hanya sebatas teks di buku pelajaran saja dan hanya menceritakannya, tapi harus mengembangkan materi itu jauh lebih dalam, untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak.

"Guru sejarah mengajar hanya sebatas mengungkap kapan dan dimana terjadi suatu peristiwa saja, tapi hampir tak pernah mengungkapkan ide-ide atau nilai-nilai perjuangan yang terjadi di dalam sejarah, " kata Hassan, Kamis (27/7/2017), pada workshop guru sejarah tingkat SMA/MA sederajat di SMA Negeri 3 Palembang Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5 Palembang.

Untuk itu, untuk mengubah anak-anak didik dalam memahami sejarah, para guru harus mengubah cara mengajar saat menyampaikan materi pelajaran.

Ia coba misalkan, selama ini guru hanya mengajarkan dan mengenalkan Soekarno dan Muhammad Hatta hanya sebatas presiden dan wakil presiden pertama RI, padahal kedua memilih jalan perjuangan tak pernah diungkapkan.

Di antaranya pertanyaan kenapa Soekarno dan Hatta dengan segala kemampuan yang dimilikinya yang bisa saja membuat keduanya berada di zona zaman, tapi justru memilih jalan yang penuh dengan perjuangan.

"Soekarno Ir kedua ada di Indonesia dan Hatta Ekonom pertama, kenapa keduanya tak memanfaatkan keilmuan mereka itu untuk memperkaya diri atau lainnya? Hal hal semacam ini harus diajarkan ke anak anak, supaya anak anak memang memahami perjuangan perjuangan yang dilakukan dan terlibat langsung dengan sejarah kita," katanya.

Menurut dia, pelajaran sejarah mata pelajaran yang paling cocok dalam mengimplementasikan pendidikan karakter.

Sebab di dalamnya ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan sejarah yang sudah berlangsung.

"Sejarah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekarang," katanya.

Penulis: Yandi Triansyah
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help