SriwijayaPost/

Berantas Berita Hoax, Pemkot Gelar Temu Lembaga Komunikasi Sosial

Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Palembang terus berupaya memberantas berita-berita hoak yang rentan membuat perpecahan.

Berantas Berita Hoax, Pemkot Gelar Temu Lembaga Komunikasi Sosial
Net
ilustrasi

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Palembang terus berupaya memberantas berita-berita hoak yang rentan membuat perpecahan.

Untuk itu beberapa waktu lalu, pihaknya membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Untuk mementapkan tugas KIM, pihaknya juga memberi pembekalan dengan menggelar Temu Lembaga Komunikasi Sosial Kementerian Komunikasi dan Informasi, di Hotel Excelton Palembang, Senin (17/7).

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahtaraan Rakyat Setda Kota Palembang, Sulaiman Amin mengatakan setelah dilaunching beberapa waktu lalu diteruskan dengan membekali anggota KIM dengan pengetahuan tentang kamunikasi terutama tentang antisipasi berita hoak.

"Berita hoak sangat membahayakan, dapat mempercah belah persatuan dan kesatuan. Kita tahu Sumsel Zero Konflik, jangan sampai masuknya berita hoax terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena itu harus ada pihak-pihak yang dapat meluruskan informasi. Hari ini KIM diajak berdialog atau berdiskusi bertujuan staretegi atau untuk menyikapi berita hoax, sehingga kalau ditemukan di lapangan mereka sudah tahu," ujarnya.

Apalagi Palembang merupakan kota yang dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan akan dilaksanakan juga pesta politik (Pilkada), yang mana kondisi ini rawan untuk dipecah belah.

"Dengan informasi yang baik dapat menciptakan kondisi yang kondusif," ujarnya.

Menurut Sulaiman, KIM ini merupakan corong pemerintah, sehingga apa yang tidak dapat disampaikan langsung oleh pemerintah ke masyarakat akan disampaikan KIM, terkait program, informasi, pelayanan atau yang menyangkut pemerintah lainnya.

Staff alhi Kementerian Kominfo dan informasi bidang hukum keminfo, Henry Subiakto menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memberantas berita hoax.

Pertama dengan kegiatan literasi kepada masyarakat, kedua penegakan Undang-Undang Infomarsi dan Transaksi Elektronik, dan terkahir kerjasama dengan banyak pihak.

"Termasuk peran MUI sangat penting, melalui pendekatan keagamaan," ujarnya.

Selain itu, pihaknya pun mengkhawatirkan bermunculannya media-media "abal-abal". Media ini merupakan media yang dibuat dengan tidak berkomitmen dengan kode etik jurnalistik, tidak dapat dipertangungjawabkan, tidak dapat diminta klarifikasi.

"Media "abal-abal" ada ribuan. Ciri media ini media ini tidak perlu kantor, tidka tahu siapa pengelolanya, tidak perlu tenaga wartawan, tinggal copy paste saja. Ini sangat bahaya dapt membunuh media konvensional. Media ini dapat dipakai untuk alat politik dan menghasilkan uang. Ini profesi baru," ujarnya.

Penulis: Siti Olisa
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help