Di OKU Harga Getah Karet Bergerak Naik, Dibeli Rp 7900-8000 Perkilogram

Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Di OKU Harga Getah Karet Bergerak Naik, Dibeli Rp 7900-8000 Perkilogram
SRIPOKU.COM/LENI JUWITA
Suasana petani karet saat menimbang getah karet di Desa Singapura Kecamatan Semidangaji Kabupaten OKU 

SRIPOKU.COM, BATURAJA-- Sehabis Hari Raya Idul Fitri 1438, harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu bergerak naik, meskipun belum terllau signifikan namun kenaikan ini membuat petani gembira.

Seperti dituturkan Wiwin, (27) kepada SRIPO Kamis (13/7) , harga getah karet yang ditimbang dua mingguan sekarang dihargai Rp 7.900/kg hingga Rp 8000/kg. Harga ini mengalami kenaikan dibandingkan sebelum lebaran yang masih Rp 7.500/kg.

“Alhamdulillah, walaupun naik dikit ini merupakan pertanda baik,” kata ibu dua anak ini seraya menambahkan bagi petani karet sekecil apapun kenaikan harga tetap membuat petani bergembira. Apalagi saat ini kebutuhan semakin banyak ditambah lagi musim tahun ajaran baru. Kebutuhan anak sekolah seperti buku, seragam sekolah, tas dan sepatu semua harus dipenuhi.

Harga ini memang belum seberapa jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang saat itu harga karet sempat menyentuh angka Rp 20 ribu/kg. Namun setidaknya harapan petani sudah mulai tumbuh.

Petani berharap kedepan harga komoditas andalan di Bumi Sebimbing Sekundang ini akan terus bergerak naik.

Bagi petani, satau-satunya harapan adalah naiknnya harga karet, petani menilai wajar apabila pemerintah ikut memperhatikan harga getah karet agar petani juga ikut sejahtra.

Karena kehidupan petani tidak akan berubah apabila tidak ada perhatian dan kepedulian pemerintah untuk ikut membantu beban petani, disisi lain kata petani Semidangaji ini, kehidupan Pegawai Negeri Sipil sudah sangat baik, karena ada gaji ke-13 dan gaji ke-14 yang dikeluarkan pada saat mau menyambut lebaran dan musim tahun ajaran baru anak sekolah.

Sementara itu berdasarkan catatan Sripo, tanaman karet memang menjadi tanaman primadona di Kabupaten OKU , luas arel perkebunan karet alam milik rakyat yang terdata saja mencapai 71.807,5 Ha dengan total produksi yang terdata 52.447,47 ton per tahun.

Jumlah ini baru yang terdata saja, sedangkan yang tidak terdata jumlahnya diperkirakan masih banyak.

Sedangkan perkebunan besar milik perusahaan terdata baru 918,09 ha dengan total produksi sekitar 1.893,48 ton per tahun.

Disisi lain, informasi di lapangan menyebutkan perekonomian rakyat Kabupaten yang berjuluk Sebimbing Sekundang ini memang ditopang dari dua komuditas yakni karet dan sawit.

Namun karet memang lebih besar dibandingkan sawit, karena petani bisa membuka kebun sendiri dan bisa langsung menjual sendiri karena banyak tauke karet yang langsung datang ke desa-desa.

Sebaliknya untuk komoditas sawit memang masih bergantung keperusahan perkebunan, artinya petani tidak bisa menjual sesuka hati.

Penulis: Leni Juwita
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help