SriwijayaPost/

Sipaha Lima, Ritual Sakral Agama Leluhur Suku Batak

Tiap bulan ke lima penanggalan suku Batak atau Juli pada kalender Masehi, ruas (umat) Parmalim yang merupakan penganut agama leluhur Batak mengadakan

Sipaha Lima, Ritual Sakral Agama Leluhur Suku Batak
Negeriku Indonesia
Tradisi Sipaha Lima merupakan upacara atau ritual suci yang dilakukan setahun sekali oleh masyarakat Batak Permalim di Sumatera Utara. 

SRIPOKU.COM , MEDAN - Tiap bulan ke lima penanggalan suku Batak atau Juli pada kalender Masehi, ruas (umat) Parmalim yang merupakan penganut agama leluhur Batak mengadakan ritual Sipaha Lima.

Berita Lainnya:
Ini 8 Tradisi Unik Pulau Sumatera Menyambut Ramadan, Unik Banget

Ini adalah bentuk syukur atas rezeki, kesehatan, dan keselamatan sepanjang tahun kepada Debata Mula Jadi Na Bolon atau Tuhan Yang Maha Esa. Satu ekor kerbau jantan akan disembelih untuk dijadikan persembahan, diiringi tarian Tortor dan irama Gondang Sebangunan, musik khas Batak.

Biasanya, acara Sipaha Lima diadakan di bale pasogit di Huta Tinggi tepatnya di Desa Pardomuan Nauli, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Tapi kali ini, acara diadakan di Istana Parmalim yang berada di Jalan Air Bersih Ujung Medan, yang juga merupakan kantor DPD Kota Medan Punguan Parmalim.

Pada 5 - 7 Juni 2017, ratusan orang datang dari seluruh penjuru, tak hanya kaum Parmalim. Para perempuan mulai anak-anak sampai opung-opung (nenek-nenek) mengenakan kebaya dan ulos, menyanggul cepol rambutnya. Para pria mengenakan kemeja dan jas, bersarung dan berselempang ulos, ada juga yang hanya mengenakan sarung dan kemeja.

Sebagian dari mereka melilitkan kain putih di kepala seperti sorban. Ini ciri khas dan penanda bahwa yang mengenakannya sudah menikah. Kalau kain selendangnya ada dua, ulos dan kain putih, berarti mereka ulupunguan (pimpinan agama) atau keluarganya.

Kamis yang terik, usai melepas alas kaki, Kompas.com bergabung dengan lautan manusia yang duduk bersila dengan kedua tangan terkatup di depan dada. Di halaman bale parsantian, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, berkelompok mengelilingi tempat upacara.

Ihutan Ugamo Malim, Raja Poltak Marsinton Naipospos terlihat khusyuk dengan rapal-rapal doa yang dipanjatkannya. Beberapa kali dalam doanya dia terdengar menangis sesenggukan. Setiap sesi doa diakhiri dengan gondang yang diikuti gerak tangan menortor. Begitulah sampai hampir dua jam.

Jelang petang, sekelompok laki-laki berdiri. Menarik kerbau menuju tengah lapangan dan menambatkannya di sebatang pohon yang sudah disediakan. Dari mulai mengarak kerbau sampai menambatkannya, dilakukan dengan gerak, suara dan irama gondang.

Setelah kerbau ditambat, perempuan dan laki-laki bergantian menortor hingga waktu yang ditentukan, kerbau pun disembelih. Para pria yang bertugas sebagai parhobas (pelayan) sigap mengangkat badan kerbau menggunakan tandu yang sudah disediakan.

Halaman
123
Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help