SriwijayaPost/

Qatar Dikucilkan 7 Negara Arab, Bagaimana Nasib 43.000 WNI di Sana?

Alasan pengucilan itu ialah Qatar diduga mendukung kelompok-kelompok teroris seperti Al Qaeda dan kelompok ISIS

Qatar Dikucilkan 7 Negara Arab, Bagaimana Nasib 43.000 WNI di Sana?
KBRI Doha
Dubes RI untuk Qatar Marsekal Madya TNI (Purn) Muhamad Basri Sidehabi melakukan pertemuan dengan WNI diaspora di kompleks Al Khor Community (AKC), kota Alkhor, sekitar 60 km dari Doha, ibu kota Qatar, Senin (5/6/2017). 

SRIPOKU.COM, DOHA - Sebanyak 43.000 warga negara Indonesia (WNI) diaspora, yang bekerja di Qatar, disarankan tidak menimbun barang-barang kebutuhan atau membeli tiket pulang setelah negara itu dikucilkan oleh tujuh negara Arab.

Bahkah Jordania juga telah mulai mengurangi intensitas hubungan diplomatiknya dengan Qatar, sejak Selasa (6/6/2017), sehari setelah tujuh negara lain mengucilkan Qatar.

Negara-negara yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar adalah Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Libya, Yaman, dan Maladewa.

Alasan pengucilan itu ialah Qatar diduga mendukung kelompok-kelompok teroris seperti Al Qaeda dan kelompok yang menyebut diri Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), serta melindungi anggota kelompok Ikhwanul Muslimin yang terlarang di Mesir.

Namun Qatar menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan meminta agar persoalan ini diatasi melalu dialog.

Di antara konsekuensi pembekuan hubungan adalah penutupan wilayah udara negara-negara yang memutuskan hubungan bagi maskapai penerbangan Qatar Airways.

Juga ada penutupan jalur darat antara Arab Saudi dan Qatar yang menjadi rute penting bagi pasokan makanan ke negara kecil di kawasan Teluk tersebut.

Kendati demikian, menurut Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI di Doha, Anwar Luqman Hakim, pihaknya telah mendapat jaminan dari pemerintah setempat bahwa segala langkah sedang dipersiapkan sehingga tidak perlu terjadi kepanikan.

"Intinya agar masyarakat tetap tenang, tetap waspada memang perlu untuk melihat perkembangannya tetapi tidak perlu untuk melakukan hal-hal yang berlebihan seperti menimbun barang-barang kebutuhan. Itu tidak perlu," jelas Anwar Luqman Hakim dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Selasa (6/6/2017).

Setelah tujuh negara mengumumkan pemutusan diplomatik, pada Senin (5/6/2017), sebagian warga menyerbu sejumlah supermarket untuk membeli persediaan kebutuhan.

Halaman
12
Editor: Sudarwan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help