SriwijayaPost/
Home »

News

» Sains

Bukan Soal Seks, Inilah Alasan di Balik Kaki Teratai Wanita China

Salah satu tradisi paling mengerikan yang dipraktikkan kepada wanita China hingga awal abad ke-20 adalah mengikat kaki mereka. Disebut sebagai kaki t

Bukan Soal Seks, Inilah Alasan di Balik Kaki Teratai Wanita China
tekOOO
Kaki teratai. 

SRIPOKU.COM - Salah satu tradisi paling mengerikan yang dipraktikkan kepada wanita China hingga awal abad ke-20 adalah mengikat kaki mereka.

Disebut sebagai kaki teratai, tradisi ini mematahkan jari-jari dan lengkungan kaki wanita untuk diikatkan ke tumit dengan kain. Hasilnya adalah kaki yang panjangnya hanya 10 sentimeter, sering terinfeksi, dan mudah patah.

Berita Lainnya:
Ternyata Ini Dia 10 Negara dengan Tradisi Unik di Bulan Ramadan, Penasaran?

Selama ini, para peneliti mengira tradisi tersebut sebagai cara untuk mendapatkan calon suami yang lebih baik dan simbol status. Mereka beranggapan bahwa tradisi mengikat kaki dilakukan oleh wanita-wanita berstatus sosial tinggi karena mereka tidak perlu bekerja keras atau berjalan jauh.

“Menurut pandangan konvensional, (tradisi) ini ada untuk menyenangkan pria. Para pria China pada masa lalu dikira suka dengan kaki yang kecil,” ucap Laurel Bossen, penulis buku Bound feet, Young hands.

Namun, penelitian Bossen mengungkapkan hal yang berbeda. Bukannya hidup dalam kemewahan, Bossen berkata bahwa gadis-gadis China yang kakinya diikat memiliki fungsi ekonomi yang sangat penting, terutama di pedesaan yang gadisnya mulai memintal, menenun, dan menjahit dengan tangan.

Faktanya, mengikat kaki justru digunakan sebagai cara untuk memaksa gadis-gadis kecil tersebut untuk duduk diam dan membuat barang-barang seperti benang, kain, sepatu, dan jala selama berjam-jam yang dibutuhkan oleh keluarganya untuk mencari nafkah.

Bossen mengatakan, Anda harus menghubungkan tangan dengan kaki. Wanita-wanita yang kakinya diikat membuat kerajinan tangan yang sangat penting di industri rumahan. Gambaran bahwa mereka adalah tropi seksual yang tidak melakukan apa-apa adalah distorsi sejarah yang sangat fatal.

Dalam pencariannya untuk menemukan pemahaman yang lebih dalam mengenai tradisi ini, professor emerita di bidang antropologi dari McGill University, Montreal ini mewawancarai 1800 wanita lansia di China yang merupakan generasi terakhir dari tradisi kaki teratai bersama rekannya, Hill Gates yang juga professor emerita di bidang antropologi dari Central Michigan University.

Mereka menemukan bahwa wanita-wanita tersebut sama sekali tidak malu untuk bercerita mengenai kaki mereka yang menandakan bahwa tradisi tersebut bukanlah sebuah fetish seksual.

Halaman
12
Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help