SriwijayaPost/

Begini Rasanya Mudik Saat Jadi Mahasiswa Perantauan

Puasa belum dimulai, namun tiket transportasi khususnya kereta api sudah ludes dari jauh hari. Pilihan transportasi lain, seperti bus dan pesawat, jel

Begini Rasanya Mudik Saat Jadi Mahasiswa Perantauan
Papasemar.com
Acara jumpa pers Mudik Bareng Green Tea, di Hongkong Cafe, Sarinah, Jakarta, Selasa (23/5/2017). 

SRIPOKU.COM, JAKARTA - Puasa belum dimulai, namun tiket transportasi khususnya kereta api sudah ludes dari jauh hari. Pilihan transportasi lain, seperti bus dan pesawat, jelas harganya sudah tak bersahabat. Naik sampai berkali lipat dari harga normal.

Berita Lainnya:
Berkurang, Jumlah Bus Mudik Gratis Sido Muncul

Inilah saat ketika anak rantau dengan status mahasiswa mulai gelisah. Kerinduan bertemu orang tua dan kerabat di kampung halaman saat Hari Raya Idul Fitri sudah tak terbendung. Namun apa boleh buat, bujet super tipis kadang dapat membuat jarak semakin jauh. Sudah mahasiswa, rantau, uang pas pula.

"Setiap tahun itu pasti ada teman-teman yang tak pulang kampung entah karena waktunya nanggung atau karena tak punya uang," kata mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Danang (23) saat diwawancara di acara jumpa pers Mudik Bareng Green Tea, di Hongkong Cafe, Sarinah, Jakarta, Selasa (23/5/2017). Padahal, menurut Danang, 30-40 persen mahasiswa di kampusnya adalah anak rantau.

Contoh terdekat, Aditya (22) mahasiswa IPB yang terancam tak pulang ke Garut tahun lalu karena kehabisan tiket transportasi. Ketika ada program mudik bareng yang diselenggarakan Nu Green Tea, harapannya membubung. Tiga minggu berlalu, akhirnya ia diumumkan lolos pendaftaran mudik bareng. Dia senang bukan kepalang.

"Saya bawa oleh-oleh khas Bogor untuk keluarga, di acara mudik bareng juga satu orang dibekali tiga botol Nu Green Tea, dapat makan juga," kata Aditya.

Terdengar sederhana, namun untuk mahasiswa rantau ketika ongkos dan biaya konsumsi pulang kampung ditanggung pihak lain, memiliki arti yang luar biasa. Tak perlu merepotkan orang tua yang pengeluarannya sudah bengkak di kampung karena hari raya.

Mahasiswa rantau jelas golongan yang sering terlupakan oleh perusahaan untuk mengulurkan bantuan program pulang kampung bersama.

Sampai akhirnya, salah satu perusahaan minuman, Nu Green Tea sadar akan hal tersebut dan akhirnya dari tahun 2016 menyelenggarakan program Mudik Bareng Mahasiswa.

Menurut Brand Manager Nu Green Tea, Rena Lesmana, mahasiswa rantau adalah golongan yang patut diapresiasi. "Target konsumen kami yang paling dekat yaitu mahasiswa. Para mahasiswa rantau, untuk yang biaya (mudik) cukup berat. Kita ingin membagikan sweet spot ke mahasiswa," katanya.

Tahun 2017, Nu Green Tea kembali mengadakan program Mudik Bareng untuk 300 mahasiswa aktif Jabodetabek. Angka tersebut sebenarnya masih sangat rendah, mengingat jumlah mahasiswa rantau di area Jabodetabek sangat tinggi.

Para mahasiswa rantau masih butuh uluran bantuan transportasi dari program mudik bersama perusahaan. Apalagi mahasiswa rantau tak hanya dari Pulau Jawa. Untuk mahasiswa rantau dari luar Pulau Jawa pulang kampung gratis bagaikan berkah di hari raya.

Penulis: Silvita Agmasari

Berita Ini Sudah Diterbitkan di Situs http://travel.kompas.com/ dengan Judul:
Rasanya Mudik Saat Jadi Mahasiswa Rantau

Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help