SriwijayaPost/

Santri Mampu Baca Kitab Kuning tak Lebih 20 Persen

Ia menilai hal ini dikarenakan perkembangan zaman membuat budaya membaca kitab kuning semakin memudar di kalangan santri pada khususnya

Santri Mampu Baca Kitab Kuning tak Lebih 20 Persen
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Ketua DPRD Sumsel.HM Giri Ramanda N Kiemas SE MM bersam Ketua DPW PKB Sumsel Drs H Ramlan Holdan dan undang membunyika rebana menandai pembukaan semifinal MKK, Sabtu (6/5/2017) 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pentingnya terus melestarikan budaya membaca kitab kuning agaknya sangat digalakkan. Pasalnya Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumsel KH Muhammad Mudarris menyebut tidak lebih dari 20 persen santri yang dapat membaca kitab kuning saat ini.

Ia menilai hal ini dikarenakan perkembangan zaman membuat budaya membaca kitab kuning semakin memudar di kalangan santri pada khususnya.

Untuk itulah ia sepakat acara Musabaqah kitab kuning ini sangat perlu dilakukan dan diagendakan setiap tahun agar budaya membaca kitab kuning ini bisa tetap dilestarikan.

"Sebenarnya kitab kuning ini sama dengan Al Quran pada umumnya, hanya saja di Kitab Kuning tidak ada tanda baca, jadi pembaca membaca huruf Arab gundul. Dari ratusan ponpes di Sumsel ini, mungkin tidak lebih dari 20 persen santri yang dapat membaca kitab kuning ini. Maka dari itu, acara seperti ini harus terus dilakukan," ungkap Mudarris yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Sabilul Hasanah pada pembukaan Semifinal Musabaqah Kitab Kuning (MKK) tingkat Provinsi di Asrama Haji Palembang, Sabtu (6/5/2017).

Ketua Panitia Acara Musabaqah Kitab Kuning (MKK) Tingkat Provinsi, Antoni Yuzar mengatakan, sebelum sampai pada semifinal sudah dilakukan seleksi di 16 Kabupaten Kota di Sumsel.

"Hari ini kita sudah masuk semifinal, pelaksanaan lombanya kita lakukan dua hari saja. Setelah ini, untuk juara 1 putra putri akan dibawa untuk mengikuti MKK di tingkat nasional," ujar Politisi PKB ini.

Untuk teknis penilaian, kata dia, semua diserahkan dengan 16 dewan juri yang terdiri dari Kiyai Ponpes dan PWNU Sumsel untuk menentukan siapa yang akan mewakili Sumsel dalam perebutan juara di tingkat nasional.

"Untuk tingkatan ini terdapat dua lomba, yakni Qiroatul Kitab Fathul Qorib dan Hifzul (hafalan) Nadhom Imriti. Lalu, untuk tingkatan Ulya, lomba baca Kitab Ihya Ulumuddin dan Hifzu nNdhom Alfiah Ibnu Malik. Di semifinal ini sudah ada 16 wasit siap menilai peserta yang kurang lebih berjumlah 250 terdiri dari 148 peserta dari tingkaan Ula dan 96 peserta dari tingkatan Ulya."kata anggota DPRD Kota Palembang.

Ketua DPW PKB Sumsel, Ramlan Holdan mengatakan gelaran MKK ini merupakan bagian dari kepedulian PKB untuk melestarikan khazanah di Ponpes. "Kita lombakan untuk membangkitkan bahwa kitab kuning ini ada dan terus dipakai sebagai bagian pendidikan," ujarnya.

Mengenai hadiah, pemenang akan mendapatkan uang pembinaan dan diberangkatkan ke Jakarta oleh PKB guna memperebutkan juara 1,2 dan 3 nasional.

Untuk pemenang tingkat nasional kategori qiraatul qutub dan hifzul nadhom baik putera maupun puteri yaitu juara 1 mendapatkan hadiah Rp 10 juta, umroh dan pembinaan, dan biaya pendidikan Rp20 juta, serta juara II mendapat biaya pendidikan Rp 15 juta.(Editor: Welly Hadinata)

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help