SriwijayaPost/

Liga I Indonesia

Sanksi Keras 'Preman' Bola

Sejauh ini, baru Ferdinand dijatuhi larangan bertanding empat laga plus denda sebesar Rp 10 juta -kendati pihak Ferdinand dan klubnya

Sanksi Keras 'Preman' Bola
Grafis SYAFNIL
Sanksi preman bola 

SRIPOKU.COM-Aksi baku pukul antarpemain dan wasit merupakan cerita lama yang terus berlangsung di dunia sepakbola. Begitupun kondisi yang terjadi Liga I Indonesia sejak bergulir 15 April lalu atau tiga pemain berlangsung, sudah terjadi 3 aksi 'premanisme'.

Pertama, aksi Ferdinand Sinaga memukul kepala pemain Persela, Ivan Carlos. Kedua, halusinasi berlaga di atas ring tinju ala Abduh Lestaluhu yang melepaskan bogem mentah kepada pemain Bhayangkara FC, Thiago Firtuoso. Sementara yang ketiga, Liga 2, yang berada satu level di bawah Liga 1, lebih parah lagi. Insiden saat Sragen United melawan Persis Solo, Minggu (30/4/2017), kiper Sragen United Andi Setiawan mendaratkan kakinya di wajah pemain Persis Solo, Dedi Cahyono. Akibatnya, Dedi dibawa ke rumah sakit.

Sejauh ini, baru Ferdinand dijatuhi larangan bertanding empat laga plus denda sebesar Rp 10 juta -kendati pihak Ferdinand dan klubnya, PSM Makassar, masih banding.

Memang, denda yang relatif kecil masih berpeluang membuat pemain mengulanginya. Beda dengan di Eropa, ambil contoh kejadian konyol perkelahian Kieron Dyer dan Lee Bowyer-ketika keduanya menjadi rekan satu tim di Newcastle United April 2005. Kala itu, keduanya dijatuhi larangan tampil 3 dan 4 pertandingan, plus denda ratusan ribu poundsterling. Bowyer didenda 600 ribu pounds, setara gajinya enam pekan. Efek jera inilah semestinya bisa diterapkan di Liga Indonesia."Jika kita berbicara sepak bola tentu bukan berbicara 11 melawan 11 orang di dalam satu lapangan, ya. Pasti ada segala sesuatunya di balik itu semua, sama halnya dengan pelanggaran, tentu bisa atau tidaknya kita tidak dapat memprediksi," ujar Tigor Shalomboboy, Chief Excecutive Officer PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Rabu (3/5).

Presiden Klub Sriwijaya FC H Dodi REza Alex menilai hal ini perlu disikapi bijak."Harus diperhatikan PSSI dan semua anggota Liga, artinya harus profesional," ujar Dodi.

SFC bertindak dengan tegas jika ada pemainnya bertindak demikian, namun tetap melihat dulu latar belakang yang terjadi, bagaimana prosesnya. Sejauh ini kejadian seperti itu banyak faktor sebabnya, termasuk wasit, maka itu dia berharap, wasit bertindak tepat dan adil, pertama melindungi pemain, kedua menjaga sportivitas dan kualitas kompetisi."Karena dengan kejadian seperti itu bukan hanya klub, tapi timnas mengalami kerugian," ujarnya.

Sementara Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI menginstruksikan agar jajaran Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bertindak tegas terhadap Ferdinand Sinaga. "Harus ada hukuman agar menimbulkan efek jera. Saya tidak mau kompetisi tercoreng kasus-kasus seperti itu," ungkap Eddy.

Penulis: Hendra Kusuma
Editor: Hendra Kusuma
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help