Perang Lawan Perburuan Harimau Sumatera dengan Fatwa

Dalam rentang 10 tahun populasi satwa dilindungi tersebut drastis berkurang hingga 20 persen akibat perburuan.

Perang Lawan Perburuan Harimau Sumatera dengan Fatwa
KOMPAS.COM/FIRMANSYAH
Penandatanganan nota kesepakatan antara MUI dengan Lingkar Institute dalam memerangi perburuan harimau Sumatera 

SRIPOKU.COM, BENGKULU -  Populasi Harimau Sumatera terus berkurang di beberapa kawasan hutan di Provinsi Bengkulu.

Dalam rentang 10 tahun populasi satwa dilindungi tersebut drastis berkurang hingga 20 persen akibat perburuan.

Hal ini disampaikan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Amin Amir, Rabu (29/3/2017) di Lebong.

"Penurunan populasi harimau terus berkurang akibat perburuan yang dilakukan masyarakat. Penegakan hukum telah banyak dilakukan namun perburuan masih berlanjut," kata Amin.

Berangkat dari kekhawatiran itu, MUI terpanggil untuk menyatakan perang melawan perburuan harimau.

Perlawanan yang dilakukan MUI dilakukan dengan menyosialisasikan fatwa MUI nomor 4 tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Kelestarian Keseimbangan Ekosistem.

"Kami akan bekali khatib-khatib yang desanya berbatasan dengan hutan untuk menyampaikan khutbah yang bertemakan penyelamatan satwa liar dilindungi," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Lingkar Institute, Iswadi dalam penandatanganan kesepahaman antara MUI Kabupaten Lebong dengan Lingkar Institute tentang sosialisasi fatwa MUI Nomor 4 tahun 2014.

"Populasi harimau sumatera hasil observasi di beberapa kawasan hutan memang terus berkurang akibat perburuan. Meski penegakan hukum telah dilakukan, tapi perburuan masih terjadi. Kami melihat MUI memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menghentikan aktivitas perburuan," ujar Iswadi.

Halaman
12
Editor: Sudarwan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved