SriwijayaPost/

Keluarga Besar NU Sumsel Nobar Film Bid'ah Cinta

"Urgensi dari film ini bahwa perbedaan pandangan terhadap persoalan agama harus disikapi dengan toleransi yang tinggi,..."

Keluarga Besar NU Sumsel Nobar Film Bid'ah Cinta
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Para warga nahdhiyin dan masyarakat umum nonton bareng Film Bid'ah Cinta 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG--Sebanyak 108 warga nahdhiyin dan masyarakat umum nonton bareng Film Bid'ah Cinta di CINEMAXX Palembang Icon, Sabtu (18/3/2017) malam.

Adapun yang datang dari Keluarga Besar Nahdhatul Ulama Sumsel, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

"Tiket kita sediakan gratis," ungkap Wakil Ketua PWNU Sumsel, Hernoe Roesprijadji SIP.

Hernoe menerangkan, sengaja memilih film yang disutradrai Nurman Hakim ini karena mengangkat tema hubungan percintaan yang dibalut dengan latar persoalan pemahaman agama Islam yang berbeda.

Misalnya soal perayaan Maulid Nabi, malam Nisyfu Syaban, doa Qunut, hingga tahlilan.

"Urgensi dari film ini bahwa perbedaan pandangan terhadap persoalan agama harus disikapi dengan toleransi yang tinggi, bukan dengan saling membenci dan mencaci yang rentan menimbulkan konflik," kata Hernoe.

Film Bid'ah Cinta memiliki korelasi terhadap situasi dan kondisi yang saat ini sedang dialami oleh Bangsa Indonesia, yang dinilai sedang bergejolak dengan berbagai perbedaan pandangan.

"Kami berharap, setelah nonton film itu masyarakat bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari, bahwa cinta bisa merekatkan perbedaan agama itu dengan menjaga fitrahnya sehingga tidak ada lagi konflik yang mengatasnamakan agama terjadi di negara ini," jelasnya.

Menurut Hernoe, film ini menceritakan latar belakang percintaan.

Di balik itu ada hikmah terdapat perbedaan pemahaman ajaran agama. Harus dimaknai sunatullah. Perbedaan itu ada tidak bisa ditolak.

"Disikapi toleransi yang tinggi. Itu kan ada perbedaan, saling menghargai. Tidak saling membenci memaki. Sesuai falsafah Bineka Tunggal Ika. Sasaran penonton generasi muda. Generasi tua pun harus memahami.
Islam sunnah waljamaah menghargai perbedaan. Ditonton dipahami dihayati, diamalkan," katanya.

Editor: Refly Permana

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: wartawansripo
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help