SriwijayaPost/

Tarif Parkir Motor Rp 1.000 dan Mobil Rp 2.000 Jangan Hanya di Spanduk

"Percuma saja spanduk dimana-mana, tetapi kenyataannya tidak seperti perda mengenai tarif parkir," ujar Putra seorang pengendara

Tarif Parkir Motor Rp 1.000 dan Mobil Rp 2.000 Jangan Hanya di Spanduk
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Spanduk perda parkir membentang di pagar Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang, Jumat (17/2/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang sejak beberapa waktu terakhir gencar melakukan sosialisasi mengenai Peraturan Daerah (Perda) parkir Rp 1.000 untuk motor dan Rp 2.000 bagi mobil.

Pihak terkait pun telah memasang imbauan berupa spanduk di sejumlah titik vital seperti Bundaran Air Mancur (BAM), BKB, Pasar 16 ilir dan sejumah pusat keramaian lainnya.

Meski Dishub Palembang telah gencar memperingatkan, namun faktanya di lapangan masih banyak para jukir liar yang bandel menaikkan tarif parkir Rp 2.000 sampai Rp 5.000 untuk sekali memarkirkan kendaraan.

Masyarakat meminta kepada Dishub Palembang tak hanya sekadar spanduk, tetapi tindakan nyata untuk menindak juru parkir meminta uang parkir sesuai tarif dikeluarkan.

"Jangan hanya spanduk. Percuma saja spanduk dimana-mana, tetapi kenyataannya tidak seperti perda mengenai tarif parkir," ujar Putra seorang pengendara yang melintas di kawasan BAM Palembang, Jumat (17/2/2017).

Saber Pungli
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Operasional Lalu Lintas Kota pada Dinas Perhubungan Kota Palembang, Marta Edison SKom MSi, mengatakan, dishub tidak punya wewenang untuk menindak para juru parkir nakal yang menaikan tarif parkir dengan seenaknya.

"Tugas kami hanya memberikan pengawasan dan pembinaan. Sementara untuk penindakannya kami telah bekerjasama dengan Polresta Palembang. Ada Satgas Saber (Sapu Bersih) pungli namanya yang siap menindak," ujar Marta dalam sebuah talk show di Radio Sonora Palembang, Rabu (15/2/2017).

Marta mengharapkan peranserta dari warga yang merasa dirugikan oleh juru parkir nakal untuk melaporkannya ke satgas saber pungli dan bersedia menjadi saksi.

"Kendala kita selama ini adalah masyarakat tak mau melaporkannya dan tak mau menjadi saksi," kata Marta.

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help