Home »

News

» Jakarta

Lihat Dimas Kanjeng Makan Kerupuk di Sel Pengadilan, Para Pengikutnya Menangis

Mereka juga merapatkan kedua tangan di depan dada serta menundukkan kepala memberi hormat kepada guru mereka.

Lihat Dimas Kanjeng Makan Kerupuk di Sel Pengadilan, Para Pengikutnya Menangis
KOMPAS.COM/Ahmad Faisol
Prayitno, korban penipuan Dimas Kanjeng senilai Rp 800 juta, memberikan keterangan dalam sidang kasus penipuan Dimas Kanjeng. 

SRIPOKU.COM, PROBOLINGGO - Sidang perdana Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng, yakni Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yang didakwa kasus pembunuhan berencana dan penipuan, Kamis (16/2/2017) hanya berlangsung 15 menit.

Dalam sidang pembacaan dakwaan di PN Kabupaten Probolinggo, yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Basuki Wiyono itu,  Dimas Kanjeng didampingi pengacaranya, Haliman.

Jaksa Penuntut Umum Rudi Prabowo saat membacakan dakwaan mengatakan, Dimas Kanjeng diduga ikut serta melakukan pembunuhan terhadap Abdul Gani, dan dijerat Pasal 340 KUHP juncto 55 tentang pembunuhan berencana.

"Adapun untuk kasus penipuan dengan korban Prayitno Supriyadi senilai Rp 800 juta, terdakwa dituntut Pasal 378 KUHP," kata Rudi.

Sidang tersebut hanya berlangsung selama 15 menit.

Basuki memutuskan sidang pembunuhan dengan agenda eksepsi digelar dua pekan mendatang, sedangkan eksepsi kasus penipuan digelar pekan depan.

Atas dakwaan tersebut, Haliman akan mempelajari dakwaan jaksa sambil menyiapkan eksepsi.

Haliman juga bakal mengajukan penundaan sidang dan perubahan tempat pengadilan.

Sebelum sidang dimulai, para pengikut Dimas Kanjeng tampak mengerumuni pria itu di sel pengadilan.

Mereka menyapa Dimas Kanjeng.

Mereka juga merapatkan kedua tangan di depan dada serta menundukkan kepala memberi hormat kepada guru mereka.

Sementara Dimas Kanjeng yang berbaju putih terlihat makan kerupuk sambil berusaha menebar senyum dan bersikap tabah.

Adapun para pengikutnya terlihat  menangis menyaksikan guru besarnya makan kerupuk dan menjadi pesakitan.

Penulis: Kontributor Probolinggo, Ahmad Faisol

Editor: Sudarwan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help